Balikpapan, Borneoupdate.com – Beragam prasangka bermunculan di benak. Itulah yang dirasakan seorang rekan wartawan, Ramadani, yang menerima panggilan telpon dari seorang petugas kesehatan pada Oktober 2020 lalu. Dari telpon itu awal dirinya dinyatakan positif Coronavirus Disease (Covid-19) dan diharuskan menjalani isolasi mandiri selama 14 hari.
Wartawan media cetak yang akrab disapa Dani ini mengisahkan awal mula dirinya terpapar Covid-19 terjadi setelah atasan di kantornya dinyatakan positif dan dirawat di rumah sakit. Ketika itu ada tradisi makan gorengan yang dilakukan wartawan sambil mengetik berita di malam hari. Lalu ada redaktur yang kondisinya tidak enak badan disertai batuk-batuk tetap datang ke kantor untuk mengedit berita wartawan. Padahal sudah diingatkan untuk WFH tapi tetap datang ke kantor dengan alasan bosan jika mengedit berita dari rumah.
“Sudah menjadi kebiasaan teman-teman kantor untuk beli gorengan. Dipesanlah gorengan setibanya di ruang redaksi diserbu para awak redaksi. Tidak ketinggalan pak redaktur ikut nimbrung makan. Kemudian beliau batuk di dekat gorengan yang kami beli. Mungkin droplet virus menyebar dan hinggap di gorengan. Tapi yang namanya awak redaksi apapun terjadi tetap lanjut makan gorengan sampai habis,” ujarnya berkisah.
Sang redaktur tadi, lanjut Dani, kondisi batuknya ternyata bertambah berat berselang tiga hari setelah makan gorengan bersama wartawan. Setelah menjalani tes PCR, redaktur itu dinyatakan positif Covid-19 dan dirawat di RS Pertamina Balikpapan. Sesuai ketentuan pemerintah, maka seluruh kontak erat pasien Covid-19 juga harus diperiksa. Dirinya pun mengikuti pemeriksaan bersama 38 karyawan lainnya. Hasilnya sebanyak 10 dinyatakan positif Covid-19 termasuk dirinya.
“Kondisi batuk pak redaktur mulai tambah buruk, setelah dilakukan tes PCR diketahui beliau positif Covid-19. Dari situlah teman-teman yang ada kontak erat dengan beliau ditracing. Salah satunya saya yang juga ikut makan gorengan. Hasil tes saya positif. Jadi petugas melakukan tracing dan meminta saya isolasi,” tuturnya.
Sebelum diketahui terpapar Covid-19, menurut Dani, dirinya memang juga merasakan gejala sakit. Namun dinilai masih wajar karena hanya sebatas kelelahan setelah bekerja. Suhu tubuh memang cukup tinggi hingga 38 derajat disertai batuk kering dan badan terasa pegal-pegal. Kemudian dirinya mendapat informasi ada redaktur di kantor yang dinyatakan positif. Jadi seluruh karyawan diminta mengikuti SWAB-PCR sebagai kontak erat.
“Awalnya terasa lelah sekali disertai kondisi badan deman tinggi diikuti batuk-batuk dan badan pegal. Saya pikir kelelahan bekerja saja. Tidak ada gejala berat seperti sesak nafas. Sehingga saat dinyatakan positif Covid-19 dianggap OTG dan hanya mengikuti isolasi mandiri,” jelasnya.
Setelah dinyatakan positif, Dani pun memutuskan mengikuti isolasi mandiri di Embarkasi Haji Balikpapan. Fasilitas milik pemerintah ini disiapkan bagi pasien Covid-19 yang masuk kategori orang tanpa gejala (OTG). Bersama 9 teman sekantornya mereka menjalani masa isolasi selama 14 hari. Sementara dari hasil tracing pihak puskesmas, baik istri, anak dan keluarganya dinyatakan negatif Covid-19.
“Jadi kami 10 orang memutuskan untuk melakukan isolasi mandiri di embarkasi haji batakan. Alhamdulillah memang tidak ada yang mengalami kondisi berat. Untuk keluarga saya alhamdulillah dari istri dan anak tidak ada yang positif yang dites oleh pihak puskesmas,” lanjutnya.
Selama masa isolasi, Dani menjalani program perawatan yang dijadwalkan oleh gugus tugas Covid-19 Kota Balikpapan. Dirinya mengikuti program olahraga pagi dan sore, pengecekan suhu tubuh setiap hari hingga mengonsumsi obat serta vitamin. Tidak lupa memperbanyak istirahat dan menghilangkan pikiran yang bisa menimbulkan tekanan psikologis. Karena hal tersebut juga berpengaruh pada imun pasien Covid-19.
“Di embarkasi kami diberikan obat dan vitamin dari para dokter jaga. Tiap hari melaporkan kondisi suhu tubuh pakai alat termometer terus dikirim ke grup WA. Makan makanan yang bergizi 4 sehat 5 sempurna. Ditambah rutin berolahraga sampai berjemur sinar matahari pukul 10 pagi,” ucapnya.
Usai melewati masa isolasi 14 hari, tambah Dani, gejala yang dirasakannya sudah menghilang dan diperbolehkan pulang. Sebab menurut dokter waktu dari terpapar Covid-19 hingga muncul gejala berkisar 5-6 hari hingga 1-14 hari. Maka dari itu, orang yang telah terpapar virus disarankan untuk tetap di rumah dan menjauh dari orang lain selama 14 hari untuk mencegah penyebaran virus. Setelah resmi berstatus penyintas Covid-19, dirinya meminta seluruh masyarakat agar mematuhi protokol kesehatan. Mengingat pandemi Covid-19 belum berakhir dan kasus terkonfirmasi positif masih terus bertambah. Apalagi hingga kini belum ada obat yang dipatenkan untuk Covid-19.
“Obat Covid-19 ya patuhi protokol kesehatan 5M. Dimanapun kita berada tidak ada yang tahu bisa saja terpapar Covid-19. Bahkan di hal sepele pun seperti makan gorengan bisa juga kena. Cuma ya itu pengalaman saja,” tutupnya sambil tersenyum. (FAD)
Discussion about this post