Balikpapan, Borneoupdate.com – Membantu sesama tidak hanya saat ada kejadian bencana. Namun setelah peristiwa terjadi bisa saja ada hal lain yang masih memerlukan uluran tangan. Hal ini yang diresapi betul oleh salah satu mahasiswa pascasarjana magister manajemen dari Universitas Muhammadiyah Kalimantan Timur (UMKT). Kesibukan di bangku kuliah tidak menghalangi dirinya turun sebagai relawan ke lokasi bencana.
Meski hampir setahun berlalu, pria yang bernama lengkap Iwan Sulistia ini masih terus memantau kondisi pasca bencana erupsi Gunung Semeru. Apalagi dirinya merangkap aktivis kemanusiaan di Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) Kaltim. Bahkan sekaligus Sekretaris Komando Kesiapsiagaan Angkatan Muda Muhammadiyah (Kokam) Kaltim.
Kemarin kami sempat berkoordinasi dengan MDMC pusat. Rencananya akan membangun lembaga pendidikan taman kanak-kanak (TK). Makanya kami turun ke lapangan cek lokasi,” ujarnya saat berangkat menuju Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, Jumat (30/09).
Iwan mengatakan MDMC Kaltim sebagai organisasi kebencanaan milik Muhammadiyah ini tetap saja fokus recovery bencana erupsi Semeru. Meski peristiwanya sudah berlalu hampir setahun. Sebab laporan di lapangan menyebutkan masih cukup banyak fasilitas umum yang diperlukan masyarakat. Mulai dari ekonomi hingga pendidikan.
“Kami sudah terima Rancangan Anggaran Biaya (RAB) untuk pembangunan TK. Total kebutuhan anggaran mencapai Rp 380 juta. Maka kita harus menyesuaikan dengan ketersediaan anggaran di MDMC Kaltim. Pokoknya semampu kita bantu,” tuturnya lagi.
Kondisi ini, lanjut Iwan, kemudian mendapatkan respon dari para relawan MDMC Kaltim. Dalam rapat koordinasi tercapai kesepakatan pembangunan taman kanak-kanak (TK) di kawasan Semeru. Untuk dana pembangunan menggunakan hasil donasi Semeru yang terkumpul di kas Lazis Muhammadiyah Kaltim. Setelah proses tanggap darurat terselesaikan.
“Hasil rekapitulasi donasi kita dari kabupaten kota di Kaltim ada sekitar Rp 150 juta. Ini yang kita sesuaikan dengan kondisi pembangunan TK di sana. Makanya perlu sekali cek lokasi dan kondisi riil di sana. Kita akan menyesuaikan itu,” jelasnya.
Menurut Iwan kegiatan bantuan tidak bisa berhenti hanya di titik pemenuhan kebutuhan saat tanggap darurat. Ada bantuan yang tidak kurang pentingnya bagi masyarakat terdampak setelah tanggap bencana dinyatakan selesai. Hal ini yang tetap menjadi prioritas Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) Kaltim pasca erupsi Semeru.
“Kami dulu kirim tim relawan ke sana saat erupsi terjadi di Desember 2021. Sudah ikut tanggap darurat bersama MDMC yang bertugas ketika itu. Kalau tanggap darurat semua bisa turun ke lokasi bencana dan memberikan bantuan kepada warga terdampak,” tambahnya.
Berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) korban meninggal dunia erupsi Semeru mencapai lebih dari 50 orang. Sementara itu, jumlah warga mengungsi berjumlah 10.395 jiwa yang tersebar di 410 titik pengungsian. Pengungsian terkonsentrasi di 3 kecamatan, yaitu Pasirian 17 titik dengan 1.746 jiwa, Candipuro 21 titik 4.645 jiwa dan Pronojiwo 8 titik 1.077 jiwa.
Sebaran titik pengungsi juga teridentifikasi di Kabupaten Lumajang, sedangkan di luar kabupaten tersebut, pengungsian berada di Kabupaten Malang 9 titik 341 jiwa, Blitar 1 titik 3 jiwa, Jember 3 titik 13 jiwa dan Probolinggo 1 titik 11 jiwa. Posko terus memutakhirkan data pengungsian akibat dampak erupsi Semeru.
Pihak pemerintah juga melakukan penyiapan lahan relokasi bagi masyarakat.
Lahan itu menjadi lokasi untuk pembangunan hunian sementara atau huntara. Dua lokasi telah dipilih menjadi relokasi warga terdampak erupsi, yaitu di Desa Sumbermujur di Kecamatan Candipuro dan Desa Oro-Oro di Kecamatan Pronojiwo. Lokasi relokasi telah mendapatkan persetujuan dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Area yang diperuntukkan untuk relokasi seluas total 90,98 hektar. (FAD)
















Discussion about this post