Jagat maya Kota Balikpapan mendadak jadi ramai. Bukan karena kulinernya yang menggoda, melainkan karena sebuah video viral berisi emak-emak yang sedang memarahi anaknya. Bukan soal piring yang belum dicuci atau pulang terlalu malam. Sang ibu kecewa berat karena anaknya gagal masuk sekolah negeri. Netizen tentu saja langsung heboh. Ada yang menyalahkan si ibu, ada yang mendramatisasi, bahkan ada yang menyalahkan sistem pendidikan.
Sang ibu tak tinggal diam. Ia menjelaskan bahwa sekolah negeri jadi impiannya karena dua alasan klasik tapi masuk akal: gratis dan dekat rumah. Siapa sih yang mau mengeluarkan ongkos ojek tiap hari kalau bisa jalan kaki sambil menghirup udara pagi? Sayangnya, si anak tak punya nilai akademik yang cukup untuk lolos. Hasilnya: emosi pun meledak di depan kamera.
Setelah video itu viral, pemerintah daerah setempat sigap bergerak. Mereka tidak menunggu netizen membakar semangat dengan komentar-komentar tajam. Perwakilan yang datang bukan untuk menegur tapi untuk menawarkan solusi. Mereka menyarankan agar anak tersebut melanjutkan pendidikan di Sanggar Kegiatan Belajar (SKB). Sebuah lembaga pendidikan non-formal yang sering luput dari sorotan tapi menyimpan potensi besar.
SKB ini ternyata bukan sekadar tempat belajar seadanya. Pemerintah membekali siswa dengan seragam, tas dan tentu saja bebas biaya. Gratis tis tis! Bahkan tanpa syarat ribet yang biasanya bikin kepala cenat-cenut. Di sini, siswa bisa tetap belajar, berkembang dan mendapatkan ijazah setara formal. Tak perlu merasa rendah diri, karena banyak alumni SKB yang sukses melanjutkan ke jenjang lebih tinggi atau langsung bekerja.
Fenomena ini membuka mata kita bahwa pendidikan bukan hanya soal gedung megah, seragam rapi, atau nilai di atas kertas. Tapi soal kesempatan. Saat satu pintu tertutup ternyata masih ada jendela yang terbuka. Tinggal kita mau melongok atau tidak.
Sang ibu mungkin awalnya merasa kecewa. Tapi dengan solusi dari pemerintah, ia kini bisa sedikit bernapas lega. Anaknya tetap bersekolah, masa depan tidak berhenti hanya karena nilai ujian. Dan siapa tahu, dari SKB inilah lahir generasi yang kelak justru mengubah sistem pendidikan menjadi lebih adil dan inklusif.
Di tengah drama dunia pendidikan, video viral ini setidaknya menyisakan pelajaran: jangan buru-buru menyalahkan anak. Kadang, solusi ada di luar ekspektasi. Dan siapa tahu, jalan memutar justru membawa kita ke tujuan yang lebih indah. Apalagi kalau jalannya gratis dan dikasih tas baru. (*)
Discussion about this post