Balikpapan, Borneoupdate.com – Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan Keluarga Berencana (DP3AKB) Kota Balikpapan menegaskan pentingnya penguatan koordinasi dan kerja sama lintas sektor. Hal ini untuk mengatasi kekerasan terhadap perempuan dan anak secara menyeluruh.
Kepala DP3AKB Kota Balikpapan, Heria Prisni, mengatakan upaya pencegahan kekerasan tidak akan efektif jika hanya mengandalkan satu lembaga atau instansi. Ia menekankan pentingnya sinergi semua pihak. Mulai dari pemerintah daerah, kepolisian, lembaga pendidikan, hingga masyarakat sipil.
“Ini kebutuhan sangat krusial dalam menciptakan lingkungan yang aman dan ramah bagi perempuan dan anak. Kami tidak bisa berjalan sendiri. Pencegahan dan penanganan kekerasan membutuhkan gerakan bersama lintas sektor,” ujarnya, Kamis (10/07).
Semua pihak, lanjut Heria, harus memiliki komitmen dan peran aktif. Karena kompleksitas kasus kekerasan yang dialami perempuan dan anak menuntut penanganan multidisipliner. Ia menyebut, banyak kasus yang tidak hanya berkaitan dengan aspek hukum, tetapi juga menyangkut aspek sosial, psikologis, dan kesehatan.
“Misalnya, saat kami menangani kasus kekerasan dalam rumah tangga, korban tidak hanya membutuhkan perlindungan hukum. Tapi juga pendampingan psikologis, rehabilitasi, dan pemberdayaan ekonomi. Di sinilah kerja sama lintas sektor menjadi kunci,” jelasnya.
Menurut Heria DP3AKB telah menggagas forum koordinasi rutin dengan sejumlah instansi dan organisasi terkait. Seperti Dinas Kesehatan, Dinas Pendidikan, Unit PPA Polresta Balikpapan, hingga Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK). Ia menginginkan melalui forum ini semua pihak bisa menyamakan langkah dan menyusun strategi terpadu dalam penanganan kasus.
“Kami terus memperkuat sistem rujukan dan jaringan kerja antar instansi. Dengan begitu, korban bisa mendapatkan layanan cepat, tepat dan menyeluruh. Makanya perlu sekali penguatan koordinasi dan kerja sama lintas sektor,” tuturnya lagi.
Heria juga mengajak masyarakat, khususnya tokoh agama dan tokoh masyarakat, untuk terlibat aktif dalam upaya pencegahan. Ia meyakini lingkungan sosial yang peduli dan responsif dapat menjadi benteng pertama dalam mendeteksi serta menghentikan kekerasan. Apalagi perlindungan terhadap perempuan dan anak bukan sekadar tugas lembaga namun merupakan tanggung jawab bersama.
“Kesadaran masyarakat harus kita bangun. Banyak kasus tidak terungkap karena korban takut atau malu. Ketika lingkungan sekitar peduli, korban akan lebih berani bicara. Intinya perempuan dan anak harus merasa aman di manapun mereka berada,” pungkasnya. (Adv/SUS)
Discussion about this post