Balikpapan, Borneoupdate.com – Jumlah laporan kekerasan terhadap perempuan dan anak di Kota Balikpapan mengalami peningkatan signifikan dalam beberapa waktu terakhir. Pemerintah Kota memang menilai tren ini sebagai tanda kesadaran masyarakat yang kian membaik. Namun di balik data tersebut, tampak jelas kelompok rentan masih menghadapi risiko kekerasan yang tinggi.
Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (DP3AKB) Balikpapan, Heria Prisini, mengakui data laporan yang mengalami peningkatan. Meski begitu, ia mengingatkan peningkatan ini mencerminkan dua sisi hal. Yakni tumbuhnya keberanian masyarakat dalam melapor dan masih kuatnya praktik kekerasan di lingkungan sekitar.
“Dari sisi tren, laporan kekerasan memang meningkat. Tapi saya lihat itu sebagai hal yang positif. Artinya, masyarakat makin sadar dan berani melapor. Dulu kan banyak yang tidak berani melapor. Di sisi lain berarti kekerasan masih banyak,” ujarnya, Selasa (29/07).
Fakta ini, lanjut Heria, menunjukkan bahwa perempuan dan anak belum mendapatkan perlindungan maksimal. Kekerasan masih terjadi di lingkungan rumah, sekolah, hingga tempat umum. Bahkan sebagian besar pelaku berasal dari lingkaran terdekat korban. DP3AKB mencatat mayoritas korban mengalami kekerasan fisik dan psikologis dengan kasus tertinggi terjadi dalam lingkup rumah tangga.
“Kondisi ini menunjukkan kita masih membutuhkan penguatan sistem perlindungan. Terutama dalam aspek pencegahan dan edukasi di tingkat keluarga. Peningkatan pelaporan itu bagus, tapi kita tidak boleh berhenti di situ,” jelasnya.
Menurut Heria pihaknya juga berhadaparan dengan kondisi sistem perlindungan korban yang belum cukup kuat. DP3AKB terus melakukan berbagai upaya preventif melalui penyuluhan, pelatihan kader perlindungan anak, serta kerja sama dengan aparat dan tokoh masyarakat. Ia menyebut keterlibatan komunitas menjadi kunci untuk menurunkan angka kekerasan.
“Kami tidak bisa bekerja sendiri. Semua pihak, termasuk orang tua, guru dan pemuka masyarakat harus ikut serta melindungi perempuan dan anak dari kekerasan. Jadi gerakannya berkelanjutan pada semua lini masyarakat,” tuturnya.
Heria meminta semua pihak agar tidak lengah. Ia menilai tingginya angka kekerasan tetap menjadi persoalan serius yang menuntut respons cepat dan menyeluruh. Selain pendekatan sosialisasi, DP3AKB juga memperkuat layanan pelaporan dan pendampingan korban. Warga kini bisa mengakses layanan pengaduan secara daring dan mendapatkan bantuan hukum maupun psikologis secara gratis. (Adv/SAN)
Discussion about this post