SAMARINDA – borneoupdate.com, Kepadatan lalu lintas, gedung-gedung perkantoran yang menumpuk, dan minimnya ruang terbuka di jantung Kota Samarinda menjadi keluhan sehari-hari warga. Di tengah hiruk-pikuk ini, suara dari pinggiran kota mulai terdengar semakin nyaring—datang dari Anggota DPRD Kaltim, Abdul Giaz.
Politisi asal Dapil Samarinda ini menyuarakan usulan yang mewakili keresahan banyak warga 22 mei 2025, kantor-kantor pemerintahan harus mulai dipindahkan ke wilayah pinggiran seperti Palaran, Loa Janan Ilir, dan Tanah Merah.
“Setiap hari warga mengeluhkan kemacetan dan minimnya ruang hijau. Di sisi lain, daerah pinggiran dibiarkan berkembang seadanya. Ini tidak adil,” kata Giaz, dalam keterangannya beberapa hari lalu.
Menurutnya, pembangunan yang selama ini terkonsentrasi di pusat kota telah menciptakan ketimpangan serius. Warga di kawasan pinggiran masih harus menghadapi kondisi jalan yang rusak, kurang penerangan, dan akses layanan publik yang terbatas. Padahal, wilayah-wilayah itu punya potensi besar untuk berkembang jika diberi perhatian yang sama.
“Kalau kantor-kantor pemerintahan dipindah ke sana, bukan hanya mengurangi kemacetan, tapi juga membawa pembangunan, membuka lapangan kerja, dan menggerakkan ekonomi lokal,” ujarnya.
Gagasan ini tak hanya soal redistribusi gedung, tapi juga soal visi jangka panjang kota yang lebih tertata. Giaz membayangkan pusat kota yang lebih ramah warga—dengan taman-taman kota, area olahraga, dan ruang publik yang hidup. “Bukan lagi lautan kendaraan dan tumpukan beton,” tambahnya.
Ia meyakini, langkah ini akan memberi dampak besar dalam jangka panjang: membagi beban kota secara adil, mempercepat pemerataan pembangunan, dan yang tak kalah penting, mengembalikan kota kepada warganya.
“Pemerintah harus berani ambil langkah besar. Kalau terus dipertahankan seperti sekarang, pusat kota akan terus sesak, dan pinggiran akan terus tertinggal,” pungkasnya.
(adv-dprd kaltim/sd)
Discussion about this post