Takengon, Borneoupdate.com – Kebutuhan air bersih menjadi persoalan mendesak bagi warga Dusun 1, Desa Pantan Pertik, Aceh Tengah, pasca bencana tanah longsor yang terjadi pada Desember 2025. Hal itu terungkap saat seorang pria berambut putih, berkopiah, dan mengenakan sarung mendatangi pos sementara relawan MDMC Kaltim di rumah Sukri Karim, Rabu (11/02), ketika itu tim sedang beristirahat dan membahas detail program kegiatan.
Pria tersebut duduk bersama para relawan dan tak lama kemudian menyampaikan permintaan mewakili warganya. Ia menjelaskan bahwa pipa distribusi air di dusun mereka mengalami kerusakan cukup parah akibat longsor. Beberapa pipa patah di banyak titik, sementara sebagian lainnya hanya disambung seadanya dan kerap bocor kembali, sehingga pasokan air bersih warga menjadi sangat terbatas.
“Kami ini dari Dusun 1. Apa boleh kami minta bantu perbaikan pipa distribusi air warga. Ini rusak pasca tanah longsor Desember 2025. Yang penting ada pipa yang dibelikan. Kami siap angkat dan pasang bersama warga,” ujarnya.
Menurutnya, kebutuhan pipa diperkirakan mencapai sekitar 1.000 meter. Ia menegaskan bahwa warga siap bekerja secara gotong royong asalkan bahan pipa tersedia. Permintaan tersebut disampaikan sebagai bentuk ikhtiar warga untuk kembali mendapatkan akses air bersih yang menjadi kebutuhan primer dalam kehidupan sehari-hari, terlebih menjelang bulan suci Ramadhan.
“Kami mohon bapak-bapak relawan bisa membantu. Ini kan primer juga bagi kami. Asalkan pipa ada kami siap kerjakan ramai-ramai,” tambahnya.
Menanggapi permintaan tersebut, relawan MDMC Kaltim, Iwan Sulistia, menyatakan pihaknya akan mengupayakan pemenuhan kebutuhan warga melalui koordinasi dengan Lazismu Kaltim. Ia menilai permintaan tersebut sebagai kebutuhan mendesak yang harus segera ditindaklanjuti agar warga dapat kembali menikmati akses air bersih secara normal.
“Tadi kami sudah tampung permintaan warga. Jelas ini kebutuhan mendesak. Kami siap koordinasi dengan Lazismu Kaltim. Semoga segera ada open donasi untuk pipa air warga ini,” jelas Iwan.
Ia menambahkan, pipa yang direncanakan akan diadakan adalah jenis HDPE, yang dikenal lebih kuat, elastis, dan tahan terhadap guncangan dibandingkan pipa sambungan biasa. Pipa HDPE ini dinilai cocok untuk kondisi geografis desa yang rawan longsor dan pergerakan tanah.
“Kebutuhannya pipa HDPE 2 inci dengan panjang 1.000 meter. Ini masih kami cek harga di pasaran dan ongkos kirim ke lokasi desa,” ujarnya.
Iwan juga menjelaskan bahwa pengiriman pipa tidak bisa langsung mencapai lokasi desa karena jembatan utama terputus dan hanya tersedia jembatan darurat yang hanya dapat dilalui kendaraan roda dua. Meski demikian, relawan dan warga optimistis kendala tersebut dapat diatasi melalui kerja sama dan gotong royong, asalkan dukungan donasi segera terwujud. (zha)
















Discussion about this post