Balikpapan, Borneoupdate.com – Komisi III DPRD Kota Balikpapan memproyeksikan perubahan pada wajah kawasan kumuh kota minyak. Di mana permukiman padat penduduk di Balikpapan bakal berubah menjadi destinasi wisata tematik yang bernilai ekonomi tinggi. Gagasan ini didorong oleh Komisi III DPRD Kota Balikpapan. Mereka meyakini sentuhan estetika pada kawasan pesisir dan bantaran sungai bisa mengubah beban kota menjadi aset wisata.
Ketua Komisi III DPRD Balikpapan, Yusri, mengungkapkan konsep kampung tematik sudah terbukti berhasil di berbagai daerah. Ia ingin Balikpapan memiliki ikon serupa yang tidak hanya indah dipandang, tapi juga mensejahterakan warga di dalamnya.
“Sebenarnya hal ini juga sudah pernah saya sampaikan, bahwa ada beberapa kawasan kumuh yang kita minta supaya memiliki estetika Kota Balikpapan. Seperti di kota-kota lain yang memiliki Kampung Warna-Warni, mudah-mudahan itu bisa menjadi contoh,” ujarnya, Ahad (01/03).
Untuk mematangkan rencana tersebut, legislatif berencana melakukan studi banding ke Kota Palembang. Kota di Sumatera Selatan itu dinilai sukses menata kawasan pinggiran sungai menjadi daya tarik pelancong.
Yusri menilai Palembang memiliki kemiripan geografis dengan Balikpapan yang didominasi wilayah perairan. Kunjungan kerja ini bertujuan untuk membedah bagaimana tata ruang dan manajemen komunitas di sana bekerja.
“Kita berencana melakukan kunjungan ke daerah lain, misalnya ke Palembang, untuk melihat bagaimana konsep Kampung Warna-Warni di sana,” jelasnya.
Bukan sekadar mengecat dinding, fokus utama Komisi III adalah pengelolaan lingkungan yang produktif. Yusri menyoroti masalah klasik di kawasan pesisir, yakni sampah yang kerap menumpuk di bawah kolong rumah atau bibir pantai.
Di Palembang, sistem pengelolaan sampah di wilayah perairan telah terintegrasi. Hal inilah yang ingin diadaptasi di Balikpapan agar sampah tidak lagi menjadi musuh, melainkan sumber pendapatan bagi masyarakat setempat.
“Termasuk bagaimana kawasan di pinggir laut atau sungai bisa menampung sampah, sehingga sampah tersebut bisa dikelola dan menjadi sumber pendapatan bagi warga,” tambah Yusri.
Jika konsep ini terwujud, efek domino ekonomi diprediksi akan muncul. Munculnya wisatawan akan menghidupkan UMKM lokal, mulai dari kuliner hingga kerajinan tangan.
DPRD berharap Pemerintah Kota Balikpapan bisa segera menangkap peluang ini. Dengan dukungan regulasi dan anggaran yang tepat, kawasan yang dulunya kumuh bisa berubah menjadi “mesin uang” baru sekaligus mempercantik citra Balikpapan sebagai beranda Ibu Kota Nusantara (IKN). (ane)
















Discussion about this post