Tak satupun orang yang bisa memastikan takdirnya. Saya pun demikian pula. 3 tahun lalu bisa menjalani rute melintasi Pulau Sumatera dari dua jalur berbeda. Padahal itu realisasi atas rencana 3 tahun sebelumnya. Eh ternyata 3 tahun berikutnya, saya kembali ke tempat yang sama dengan kondisi jauh berbeda. Yakni bergabung bersama tim relawan MDMC-Lazismu Kaltim.
Kali ini bukan untuk backpacker dan healing santai. Meski cara pergi dan pulang sama persis dengan 3 tahun yang lalu. Masih tidur di mobil, rest area dan masjid. Mulai awal jalan hingga pulang. Bedanya ini sebagai respon kemanusiaan bencana Aceh tahun 2025. Itu adalah serangkaian bencana hidrometeorologi parah berupa banjir bandang, luapan sungai, dan tanah longsor yang menerjang wilayah utara dan tengah Pulau Sumatera. Meliputi Aceh, Sumatera Utara dan Sumatera Barat.
Pemerintah menyebut bencana ini disebabkan oleh cuaca ekstrem dan kerentanan ekologis akibat degradasi hutan di wilayah hulu. Dampaknya 1.204 orang tewas, 140 orang hilang, dan 8.041 orang luka-luka. Lalu lebih dari 1 juta orang mengungsi di negeri sendiri. Kerusakan 1.900 fasilitas umum, 200 fasilitas kesehatan, 875 fasilitas pendidikan, 806 rumah ibadah, 291 kantor, dan 734 jembatan rusak
Aceh menjadi wilayah terdampak parah. 562 penduduknya tewas, 5.359 luka-luka, 29 orang hilang. Disusul Sumatera Utara: 375 orang tewas, 2.300 luka-luka, 41 orang hilang. Sedangkan Sumatera Barat: 267 orang tewas, 382 luka-luka dan 70 orang hilang. Pemerintah telah menetapkan status tanggap darurat bencana dan melakukan upaya penanganan. Termasuk evakuasi, distribusi logistik, dan perbaikan infrastruktur.
Dari hasil koordinasi dengan posko bencana Muhammadiyah Aceh, tim relawan dari MDMC-Lazismu Kaltim bertugas di wilayah Kabupaten Aceh Tengah. Tepatnya di depan Pantan Pertik, Takengon. Tim kami beranggotakan 4 orang berangkat menggunakan 1 unit mobil double cabin dari Kota Samarinda, Provinsi Kaltim. Menempuh jalan darat dan laut dari Samarinda ke Aceh sekitar 4.298 kilometer. Total 8 ribu kilometer lebih untuk perjalanan pulang pergi (PP).
Di perjalanan ini semua tanpa biaya penginapan. Karena kami hanya tidur di mobil atau di hotel bulan bintang. Untuk MCK cukup mampir ke masjid dan SPBU yang tersebar hampir merata di jalur lintas Sumatera. Tak lupa menyiapkan uang pecahan. Itu untuk warga yang mengatur lalu lintas di jalur macet atau biaya MCK. Kami juga menemui 10 kecelakaan lalu lintas di perjalanan. Mulai adu banteng, kecelakaan tunggal hingga masuk jurang.
Kami mengawali perjalanan di jalur darat dari Samarinda hingga Banda Aceh. Lalu pulang lewat jalur yang sama. Overall jalannya sudah bagus meski ada perbaikan di beberapa titik tol. Lalu lintas cukup padat oleh kendaraan. Terutama di daerah besar seperti Surabaya, Jakarta, Palembang, Jambi, Riau, Medan dan Aceh. Bahkan sudah ada empat jalan tol yang mampu memangkas waktu tempuh kami di Sumatera.
Sampai di sini saya pikir detail perjalanan ini cukuplah jadi obrolan santai. Apalagi saat kumpul angkat cangkir kopi. Sudah banyak yang mengulas lokasi wisata, alur jalan hingga biaya yang terpakai. Masing-masing pasti punya sisi dan sudut pandang yang berbeda. Tapi selalu saja ada cerita dan derita di sebaliknya. Insya Allah saya buat sisi lainnya saja.
Jadi disinilah kami kembali berjalan. Dari pulau kami di pertengahan Nusantara. Hingga menjejak Aceh di ujung barat Indonesia. Intinya lokasi yang dituju hanya bonus tapi jangan lupakan bagaimana selamat sampai ke rumah. Proses yang dilalui saat di jalan juga bisa jadi cerita kok. Tetap jaga diri dan keselamatan. Jaga kebersihan, jangan ambil apapun kecuali foto dan jangan tinggal apapun kecuali kenangan. #salam tangguh. (*)
















Discussion about this post