“Mas kalo donasi apa kami bisa tau kemana penyalurannya?”. Pertanyaan itu sering muncul saat kami membuka donasi kebencanaan di Kaltim. Masing-masing orang memang beda keinginannya. Tentu tidak masalah ketika ada yang ingin kejelasan uangnya dipakai untuk apa. Otomatis sebagai pengumpul dana, kami juga harus menyajikan bukti penggunaan. Bukan hanya laporan keuangan dan audit tapi juga bentuk fisiknya.
Amanah donasi bukan sekadar urusan mengumpulkan dan menyalurkan dana. Ia adalah tentang kepercayaan. Tentang janji yang harus ditepati. Itulah yang dijaga oleh MDMC-Lazismu Kaltim dalam setiap proses penyaluran bantuan.
Sejak awal, komitmen dibangun secara terbuka. Donasi yang dihimpun dari warga Kabupaten kota di Kaltim tidak berhenti di angka laporan keuangan. Donasi itu diwujudkan dalam aksi nyata. Diserahkan langsung ke pihak penerima. Disertai dokumentasi dan laporan pertanggungjawaban kepada para donatur.
Langkah ini terlihat jelas dalam pembangunan hunian tetap (huntap) di Kabupaten Hulu Sungai Tengah, Kalimantan Selatan. Wilayah ini sebelumnya terdampak bencana banjir dan longsor yang memaksa banyak warga kehilangan tempat tinggal. Kondisi tersebut membutuhkan respon cepat sekaligus terukur. MDMC-Lazismu Kaltim hadir tidak hanya membawa bantuan logistik, tetapi juga solusi jangka menengah melalui pembangunan fisik hunian sementara.
Proses pembangunan dilakukan secara bertahap. Dimulai dari asesmen kebutuhan di lapangan. Dilanjutkan dengan perencanaan teknis. Hingga realisasi konstruksi. Setiap tahap terdokumentasi. Setiap pengeluaran tercatat. Transparansi menjadi prinsip utama.
Hunian tetap itu telah berdiri sejak 2021 dan dimanfaatkan warga. Bangunan tersebut bukan sekadar struktur fisik. Ia menjadi simbol bahwa donasi yang dititipkan benar-benar sampai ke tangan yang membutuhkan. Diserahkan langsung lengkap dengan laporan dan dokumentasi.
Tidak berhenti di Kalimantan Selatan, amanah donasi juga diwujudkan dalam dukungan pembangunan TK ABA Kaltim di Lumajang, Jawa Timur, pada tahun 2022. Program ini menjadi bagian dari upaya pemulihan sarana pendidikan yang terdampak bencana erupsi gunung Semeru. Pendidikan dipilih karena ia adalah fondasi masa depan. Anak-anak membutuhkan ruang belajar yang aman dan layak.
Proses pembangunan fasilitas TK ABA dilakukan dengan pendekatan serupa. Transparan dan terukur. Dana yang dihimpun dilaporkan secara rinci. Progres pembangunan disampaikan secara berkala. Dokumentasi lapangan dibagikan kepada donatur sebagai bentuk akuntabilitas.
Penyerahan bantuan dilakukan langsung kepada pihak pengelola sekolah. Disaksikan oleh unsur terkait. Momentum tersebut menjadi bukti bahwa proses distribusi tidak hanya administratif, tetapi juga faktual. Ada bangunan yang berdiri. Ada ruang kelas yang digunakan. Ada anak-anak yang kembali belajar dengan nyaman.
Upaya ini sekaligus menjawab tantangan besar dalam pengelolaan donasi publik, yakni menjaga kepercayaan. Kepercayaan tidak dibangun lewat kata-kata. Ia dibangun lewat rekam jejak. Lewat laporan yang jelas. Lewat bukti fisik yang bisa dilihat dan diverifikasi.
Bagi warga Kalimantan Timur, kejelasan rekam jejak menjadi hal penting. Donasi yang mereka titipkan melalui MDMC-Lazismu Kaltim bukan hanya tentang nominal. Ia adalah bentuk kepedulian sosial. Bentuk solidaritas antar daerah. Karena itu, setiap rupiah harus dapat dipertanggungjawabkan.
MDMC-Lazismu Kaltim memastikan bahwa laporan kepada donatur tidak berhenti pada narasi umum. Laporan disertai rincian penggunaan dana. Dokumentasi pembangunan. Hingga hasil akhir yang dapat diakses. Pola ini memperkuat tata kelola organisasi yang profesional.
Dalam konteks kebencanaan, kecepatan sering kali menjadi prioritas. Namun kecepatan tanpa akuntabilitas berisiko menimbulkan keraguan. Sebaliknya, akuntabilitas tanpa aksi cepat juga tidak efektif. MDMC-Lazismu Kaltim berupaya menyeimbangkan keduanya. Bergerak cepat di lapangan. Tetap tertib dalam pelaporan.
Hunian tetap di Kabupaten Hulu Sungai Tengah dan fasilitas TK ABA di Lumajang menjadi contoh konkret. Program tersebut menunjukkan bahwa donasi publik dapat dikelola secara bertanggung jawab. Dapat diwujudkan dalam pembangunan fisik yang jelas. Dapat dilaporkan secara terbuka kepada masyarakat.
Model kerja ini sekaligus memperkuat posisi MDMC-Lazismu Kaltim sebagai lembaga yang mengedepankan integritas. Bukan hanya dalam pengumpulan dana, tetapi juga dalam distribusi dan pelaporan. Transparansi menjadi budaya kerja. Bukan sekadar slogan.
Ke depan, komitmen ini akan terus dijaga. Setiap program kemanusiaan akan disertai mekanisme pelaporan yang sistematis. Setiap donasi akan dilacak hingga titik akhir penerima manfaat. Dengan demikian, warga Kaltim memiliki kepastian bahwa amanah yang mereka titipkan dikelola secara profesional dan sampai kepada yang berhak.
Amanah donasi adalah tanggung jawab moral dan sosial. MDMC-Lazismu Kaltim memilih menjawabnya dengan kerja nyata. Dengan bangunan yang berdiri. Dengan laporan yang terbuka. Dan dengan kepercayaan yang terus dirawat. (*)
















Discussion about this post