Balikpapan, Borneoupdate.com – Pemerintah Kota Balikpapan terus memperkuat upaya pencegahan kekerasan terhadap anak melalui pendekatan berbasis komunitas. Salah satu langkah strategis yang mereka tempuh yaitu mengoptimalkan peran Forum Anak. Forum ini sebagai garda depan dalam menyuarakan isu perlindungan dan anti kekerasan di lingkungan sebaya.
Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (DP3AKB) Balikpapan menyadari anak-anak seringkali lebih nyaman berbicara dan membuka diri kepada teman sebayanya dibandingkan kepada orang dewasa. Karena itu, mereka menjadikan Forum Anak bukan sekadar pelengkap dalam kegiatan seremonial, melainkan sebagai ujung tombak gerakan perubahan.
“Anak-anak lebih terbuka ke sesama anak. Forum Anak kami libatkan secara aktif dalam edukasi di sekolah dan komunitas. Kami ingin anak-anak tahu bahwa mereka bisa jadi bagian dari solusi, bukan hanya objek perlindungan,” kata Kepala DP3AKB Kota Balikpapan, Heria Prisini, Kamis (31/07).
Heria menjelaskan, Forum Anak memiliki anggota yang berasal dari berbagai latar belakang sekolah dan organisasi remaja. Para anggota telah mendapatkan pelatihan khusus mengenai hak anak, pola-pola kekerasan, cara mengenali tanda bahaya, serta strategi menyampaikan pesan secara kreatif dan efektif di lingkungan mereka masing-masing.
“Kami bekali mereka dengan pemahaman yang cukup agar mereka tidak hanya tahu. Tapi juga bisa menyampaikan dengan bahasa yang bisa diterima teman-temannya. Kami tentu ingin ada pencegahan sejak dini,” ujar Heria.
Menurut Heria Forum Anak secara rutin sudah menggelar kampanye di sekolah, diskusi kelompok sebaya, hingga membuat konten digital bertema perlindungan anak. Mereka juga aktif mengajak rekan-rekannya berdialog, membentuk ruang aman dan melaporkan kasus-kasus kekerasan yang mereka temui di sekitar.
Ia menilai pendekatan ini lebih adaptif terhadap perkembangan zaman. Di mana edukasi yang dibawa oleh anak kepada anak bisa masuk lebih dalam karena berbasis pada pengalaman dan kedekatan emosional. “Kalau yang bicara teman sendiri, biasanya lebih didengar. Anak-anak lebih mudah menyerap pesan dari teman yang mereka percaya,” tuturnya lagi.
Heria berharap melalui pendekatan partisipatif ini mampu memunculkan kesadaran kolektif tentang pentingnya perlindungan anak dapat tumbuh sejak dini. Pemerintah optimistis gerakan dari anak untuk anak akan menciptakan efek berantai yang positif di seluruh lapisan masyarakat. “Kalau ingin membangun kota yang ramah anak, maka suara anak harus kita dengar dan libatkan dalam prosesnya,” tutupnya. (Adv/SAN)
Discussion about this post