Balikpapan, Borneoupdate.com – Pemerintah Kota Balikpapan melalui Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (DP3AKB) memperkuat kapasitas para aktivis Perlindungan Perempuan dan Anak Terpadu Berbasis Masyarakat (PPATBM). Langkah ini diwujudkan melalui pelatihan intensif melibatkan Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) dan Detasemen Khusus 88 Anti Teror Polri.
Kegiatan tersebut diikuti oleh seluruh pengurus PPATBM dari kelurahan se-Kota Balikpapan. DP3AKB menghadirkan dua narasumber kunci untuk memperluas perspektif dan keterampilan para peserta. Yakni Yulisa Maharani, tenaga ahli dari LPSK dan AKP Andi Husin dari Detasemen Khusus 88 Anti Teror Polri. Keduanya menyampaikan materi strategis seputar perlindungan saksi, korban serta ancaman ekstremisme yang berpotensi menyasar kelompok rentan.
“Kami ingin para aktivis di tingkat kelurahan memahami lebih dalam bagaimana pola perlindungan yang responsif dan tangguh. Karena mereka menjadi ujung tombak dalam menangani kasus-kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak,” ujar Kepala DP3AKB Kota Balikpapan, Heria Prisni.
Heria mengatakan, selama ini banyak kasus yang luput dari penanganan optimal karena keterbatasan kapasitas petugas lapangan. Ia menilai peningkatan kapasitas ini menjadi langkah mendesak untuk membangun sistem perlindungan yang lebih menyentuh dan konkret. Di mana sangat penting membangun kepercayaan antara korban dan petugas pendamping.
“Korban tidak akan bicara jika tidak merasa aman. Maka yang pertama harus dibangun adalah ruang aman. Aktivis PPATBM punya peran besar dalam menciptakan ruang itu. Makanya perlu sekali penguatan kapasitas,” lanjutnya.
Menurut Heria pelatihan ini membuka mata peserta terhadap pendekatan yang lebih manusiawi dan strategis dalam pendampingan korban. DP3AKB Kota Balikpapan memastikan pelatihan serupa akan terus berlanjut untuk memperkuat jejaring PPATBM hingga ke tingkat RT. Agar proses pendampingan bisa terukur dan terstruktur.
“Selama ini mungkin hanya fokus pada penyelamatan korban secara fisik. Tapi sekarang peserta bisa dapat gambaran dan paham pentingnya perlindungan psikologis dan hukum secara utuh. Ini penting agar korban bisa pulih,” tuturnya lagi.
Melalui pelatihan ini, tambah Heria, Pemkot Balikpapan menunjukkan komitmennya untuk menciptakan kota yang lebih aman dan ramah bagi perempuan dan anak. Khususnya dengan menjadikan masyarakat sebagai garda terdepan perlindungan. Sehingga mereka bisa turut berpartisipasi dalam pencegahan di lapangan. (Adv/SAN)
Discussion about this post