Samarinda, Borneoupdate.com – DPRD Kalimantan Timur menyerukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem penanggulangan kebakaran di pusat perbelanjaan. Anggota Komisi II DPRD Kaltim, Abdul Giaz, menegaskan pihak pengelola mal wajib menyiapkan langkah pencegahan dini agar peristiwa kebakaran tidak kembali terulang.
Seruan itu ia sampaikan menanggapi kebakaran yang terjadi di Big Mall Samarinda beberapa waktu lalu. Ia menilai insiden tersebut menjadi alarm keras bahwa sistem pengamanan dan penanggulangan kebakaran di pusat perbelanjaan belum berjalan optimal.
“Peristiwa di Big Mall harus menjadi pelajaran berharga. Kita minta pengelola pusat perbelanjaan mengevaluasi total sistem penanggulangan kebakaran. Pencegahan dini itu wajib, bukan pilihan,” ujarnya, Kamis (12/06).
Giaz menekankan, pusat perbelanjaan termasuk kawasan dengan tingkat risiko tinggi karena menampung ribuan orang setiap harinya. Tanpa sistem keamanan kebakaran yang baik, keselamatan pengunjung dan pekerja bisa terancam.
“Mal itu tempat publik. Kalau ada kebakaran, dampaknya bisa besar, bahkan fatal. Karena itu, pengelola harus memastikan hydrant berfungsi, alarm berjalan, dan jalur evakuasi benar-benar siap digunakan,” jelasnya.
Giaz juga mengingatkan pentingnya pelatihan rutin bagi seluruh karyawan. Menurutnya, peralatan canggih tidak akan berguna jika petugas lapangan tidak mampu mengoperasikannya dalam kondisi darurat.
“Jangan hanya mengandalkan alat. Karyawan harus tahu cara menggunakan APAR (alat pemadam api ringan), bagaimana mengevakuasi pengunjung, dan bagaimana menghubungi tim pemadam. Semua itu harus dilatih secara berkala,” tegasnya.
Untuk itu, menurut Giaz, pemerintah daerah bersama dinas terkait perlu inspeksi rutin ke seluruh pusat perbelanjaan di Samarinda maupun kabupaten/kota lain di Kaltim. Hal itu sebagai pengawasan ketat yang akan mendorong pengelola lebih serius menjaga keamanan.
“Kalau pengawasan lemah, pengelola bisa lalai. Pemerintah harus turun langsung memeriksa, jangan hanya menunggu laporan. Dengan begitu, masyarakat bisa merasa aman ketika berkunjung,” lanjutnya.
Selain itu, Giaz berharap pengelola mal terbuka terhadap publik mengenai standar keamanan yang diterapkan. Ia menilai transparansi akan meningkatkan kepercayaan masyarakat sekaligus mendorong budaya keselamatan.
“Pengunjung berhak tahu apakah pusat perbelanjaan yang mereka datangi sudah aman atau tidak. Jadi, pengelola harus transparan, jangan menutup-nutupi,” tambahnya. (Adv/ANA)
















Discussion about this post