Banda Aceh, Borneoupdate.com – MDMC dan Lazismu Kalimantan Timur (Kaltim) terlibat aktif dalam upaya recovery pasca bencana banjir yang melanda sejumlah wilayah di Aceh. Keterlibatan ini diwujudkan melalui pengiriman tim ke lokasi terdampak untuk melakukan pemantauan lapangan sebagai dasar pengambilan keputusan bantuan yang tepat sasaran dan berkelanjutan. Langkah ini menjadi bagian dari komitmen Muhammadiyah dalam merespons bencana secara cepat, terukur, dan terkoordinasi.
Sekretaris MDMC Kaltim, Rahiman al Banjari mengatakan pihaknya melakukan pengecekan langsung di tiga titik utama yang terdampak banjir. Yakni Kabupaten Pidie, Pidie Jaya dan Aceh Tengah. Ketiga wilayah ini dipilih berdasarkan laporan awal kerusakan dan kebutuhan mendesak yang diterima dari Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Aceh.
“Maka kami perlu turun pantau langsung. Kami harus dapat gambaran utuh terkait kondisi masyarakat di sana. Rencananya fokus kita pada infrastruktur pada Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) yang terdampak,” ujarnya, Sabtu (07/02).
Hasil pemantauan dan laporan, lanjut Rahiman, menunjukkan bahwa proses perbaikan bangunan fisik AUM di sejumlah lokasi masuk dalam kategori mendesak. Beberapa fasilitas pendidikan, kesehatan dan sosial milik Muhammadiyah mengalami kerusakan cukup signifikan akibat terjangan banjir. Kerusakan tersebut tidak hanya menghambat aktivitas layanan, tetapi juga berdampak langsung pada masyarakat sekitar yang bergantung pada keberadaan AUM sebagai pusat pelayanan publik dan sosial.
Selain meninjau kondisi fisik bangunan, tuturnya, tim juga melakukan dialog dengan pengelola AUM, tokoh masyarakat, serta relawan lokal untuk memetakan kebutuhan riil di lapangan. Pendekatan ini dilakukan agar bantuan yang akan disalurkan tidak hanya bersifat reaktif. Tetapi juga mampu menjawab kebutuhan jangka menengah dan panjang masyarakat terdampak bencana. Pemantauan ini menjadi pijakan penting dalam menyusun skema intervensi yang lebih komprehensif.
“Di lapangan tim MDMC Kaltim tidak bekerja sendiri. Kami melakukan koordinasi intensif dengan MDMC Pusat serta Pos Koordinasi Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Aceh. Jadi data yang didapat bisa menyesuaikan ketersediaan dana di Kaltim,” jelasnya.
Menurut Rahiman, koordinasi ini bertujuan menyelaraskan data, memperkuat sinergi, serta memastikan bahwa setiap langkah yang diambil berada dalam satu kerangka kerja kebencanaan Muhammadiyah secara nasional. Sinergi lintas wilayah ini juga menjadi kunci agar respon yang diberikan lebih terarah dan tidak tumpang tindih.
Di sisi lain, tambahnya, Lazismu Kaltim turut berperan penting dalam mendukung upaya recovery melalui penguatan aspek pendanaan dan logistik. Hasil koordinasi di lapangan menjadi dasar bagi Lazismu dalam merumuskan skema bantuan yang tepat, baik dalam bentuk perbaikan fisik, dukungan sarana prasarana, maupun bantuan sosial bagi warga terdampak. Pendekatan berbasis data ini diharapkan mampu memastikan bahwa setiap rupiah dana umat tersalurkan secara efektif dan berdampak nyata.
Keterlibatan MDMC dan Lazismu Kaltim di Aceh mencerminkan semangat solidaritas antar wilayah dalam tubuh Muhammadiyah. Meski berasal dari provinsi yang berbeda, kepedulian terhadap saudara sebangsa yang terdampak bencana menjadi pengikat utama dalam gerakan kemanusiaan ini. Kehadiran tim dari Kaltim juga memberi penguatan moral bagi relawan dan masyarakat lokal bahwa mereka tidak berjuang sendiri dalam proses pemulihan pasca bencana.
“Ini bagian dari One Muhammadiyah One Respon (OMOR). Kita harus sinergi dalam perumusan program recovery yang lebih terstruktur. Baik pada aspek rehabilitasi fisik maupun pemulihan sosial-ekonomi masyarakat. MDMC dan Lazismu Kaltim menegaskan komitmennya untuk terus mengawal proses pemulihan ini bersama,” tutupnya. (zha)
















Discussion about this post