“Kalau bencana kan rumah pada hancur. Rumah kami tak hancur. Tapi jalan kami hancur. Mau kemana-mana pun tak bisa. Susah nak dapat bahan pangan meski uang ada,” ujar Sukri. Kalimat itu terdengar jelas di telingaku saat bersiap menuju Kabupaten Aceh Tengah, Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam.
Gambaran bencana biasanya tak jauh dari jumlah korban, bangunan rusak dan kerugian materi. Pada peristiwa bencana banjir dan longsor di Sumatera pun demikian. Kabupaten Aceh Tamiang yang sering disebut di berbagai media massa. Secara fakta memang daerah itu terdampak paling parah dibanding yang lainnya. Tapi tidak menutup kemungkinan ada juga yang mengalami kesusahan serupa.
Di berbagai platform media sosial, sudah banyak yang mengangkat data dan fakta lapangan seputar bencana Sumatera. Di sisi Muhammadiyah, penanganan bencana selalu berkelanjutan. Tak cukup hanya pada fase tanggap darurat. Relawan organisasi muslim ini terus turun di tahap recovery hingga rehabilitasi dan rekonstruksi.
Tentu ada yang menjadi skala prioritas dalam proses realisasi. Seperti fasilitas Amal Usaha Muhammadiyah (AUM), fasilitas primer warga penyintas dan hunian yang memadai bagi warga terdampak. Itu semua juga tetap menyesuaikan ketersediaan dana yang bersumber dari donasi warga dan simpatisan persyarikatan melalui rekening Lazis Muhammadiyah.
Penjelasan dari Sukri Karim inilah yang menjadi acuan rencana aksi tim MDMC-Lazismu Kaltim. Kami yang tergabung di tim.relawan segera berangkat ke lokasi dengan melibatkan dirinya selaku penunjuk jalan. Nama terakhir ini juga merupakan penduduk asli desa yang kami tuju sekaligus ketua pos koordinasi bencana di Muhammadiyah Aceh
Sabtu (07/02) pukul 9 pagi waktu setempat rombongan kami pun berangkat. Kami menggunakan mobil double cabin milik MDMC-Lazismu Kaltim. Lalu ada 1 unit mobil dari PWM Aceh yang turut mendampingi. Sekitar pukul 2 siang kami singgah di pasar Kabupaten Bireuen untuk berbelanja kebutuhan paket penerima manfaat.
2 jam berikutnya rombongan pun melaju melanjutkan perjalanan. Perkiraan waktu tempuh masih 4 jam lagi. Perjalanan diselingi obrolan melalui handy talkie (HT) yang dipinjamkan Sukri. Ia berkisah ketika terjadi banjir dan longsor, warga Takengon kesulitan memenuhi kebutuhan pokok. Jalanan yang biasa mereka lalui terputus akibat longsor dan banjir.
“Ada sekitar 2 pekan pertama warga harus jalan kaki untuk beli kebutuhan. Kan ada tuh postingan yang jalan kaki 15 kilometer. Jadi mereka duit ada tapi jalan untuk beli yang susah. Menunggu jalan terbuka bisa mati kelaparan,” tuturnya kepada kami.
Bahkan harga BBM sampai melambung tinggi ketika awal terjadinya musibah. Harga BBM berada di kisaran Rp 50 ribu per liter sampai ada yang Rp 100 ribu per liternya. Di sisi lain, pergerakan ekonomi warga jadi melambat karena akses jalan yang terputus total. Hasil panen warga sampai tak laku meski dijual murah.
“Inilah yang tadi kami sebut jalan kami hancur. Tapi rumah kami tak hancur. Kondisi ini masih bisa kita lihat sepanjang jalan ke Takengon. Ada beberapa titik yang harus gantian kendaraan melintas,” jelasnya lagi.
Ternyata perkiraan 4 jam juga melesat. Rombongan kami harus melintasi jalan rusak di beberapa titik di Kabupaten Bener Meriah. Otomatis kondisi itu menambah waktu perjalanan. Ada sekitar 3 titik jembatan putus yang berganti jembatan bailey. Proses melintasnya juga harus bergantian. Sementara ruas jalan berada di sisi bukit dan jurang.
Sekitar pukul 06.30 sore kami sempat memarkirkan mobil untuk beristirahat sejenak. Geografis Takengon dan Kabupaten Bener Meriah yang berada di perbukitan membuat suhu terasa dingin. Kami pun beristirahat sembari membeli gorengan yang masih hangat untuk mengganjal perut.
Tak seberapa lama rombongan kembali melaju ke titik tujuan. Ternyata kami baru bisa tiba 2 jam berikutnya. Namun belum sampai ke lokasi yang dituju. Di situ relawan memarkirkan kendaraan, bongkar muatan bantuan dan menunggu jembatan dari warga. Karena jembatan utama sudah putus dan hanya bisa dilalui kendaraan roda dua.
Pukul 9 malam kami pun baru sampai di rumah keluarga Sukri Karim di desa Pantan Pertik. Rumah ini menjadi pusat kegiatan relawan asal Kaltim yang bakal menggelar bakti sosial. Ada 3 rencana yang masuk dalam program di Aceh. Yakni pembagian paket penerima manfaat, perbaikan fasilitas AUM dan perbaikan instalasi pipa distribusi air warga desa.
Setelah membersihkan diri, sholat berjamaah dan rapat program, kami pun merebahkan diri untuk beristirahat. Waktu itu sudah menunjukkan pukul 1 malam. Suhu udara semakin dingin karena desa ini berada di dataran tinggi. Air yang digunakan untuk wudhu dan cebok saja sudah cukup membuat tubuh gemetaran. (*)
















Discussion about this post