Pukul 07.30 pagi di Banda Aceh. Udara terasa lembab, tetapi bersih dan segar. Saya bersama Solihin dan Iwan Sulistia keluar dari gedung Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Aceh. Kami tidak langsung menuju lokasi kegiatan. Kami memilih mampir ke warung kopi yang jaraknya sekitar satu kilometer dari kantor. Tidak ada agenda khusus. Kami hanya ingin menikmati pagi dengan secangkir kopi sebelum hari benar-benar berjalan.
Warung Ali Kupi itu yang tertulis. Nampak lebih dari separuh kursi terisi. Para pengunjung duduk santai dengan gelas kecil di depan mereka. Sebagian berbincang pelan, sebagian lagi sibuk dengan ponsel. Tidak ada wajah tegang. Tidak ada yang terlihat tergesa. Semua menikmati pagi dengan ritme yang pelan.
“Kopi sanger tiga,” pesan saya kepada abang yang bertugas menyeduh kopi. Kopi sanger adalah minuman khas Aceh. Racikannya sederhana: kopi robusta atau arabika dicampur susu kental manis, lalu dituangkan berulang-ulang agar menyatu sempurna.
Nama “sanger” sering disebut sebagai singkatan dari “sama-sama ngerti”, tanda kesepahaman antara penjual dan pembeli tentang harga yang terjangkau. Dalam hitungan menit, tiga gelas kecil kopi sanger tersaji di meja kami. Aromanya kuat dan hangat. Saya menyeruputnya perlahan.
Di warung kopi itu, saya menangkap sesuatu yang berbeda. Secangkir kopi kecil bisa menemani seseorang berjam-jam. Orang-orang tidak datang untuk sekedar minum lalu pergi. Mereka duduk, berbincang, diam sejenak, lalu berbincang lagi. Waktu seolah tidak dikejar. Mereka pun tidak merasa perlu mengejar waktu.
Pemandangan ini berbeda dengan suasana pagi di kota besar. Di banyak tempat, pagi identik dengan kesibukan. Orang minum kopi sambil berdiri, sambil berjalan, bahkan sambil menyetir. Kopi menjadi pemacu agar tubuh lebih cepat bergerak. Di Aceh, kopi justru menjadi alasan untuk melambat.
Saya teringat konsep slow living, gaya hidup yang mengajak orang menikmati proses dan hadir penuh dalam setiap momen. Di kota-kota besar, konsep ini sering dibungkus dalam seminar mahal, retreat, atau program digital detox. Namun di Aceh, saya melihatnya hadir tanpa label. Ia tumbuh alami dalam kebiasaan sehari-hari.
Bukan berarti orang Aceh tidak sibuk. Mereka tetap bekerja keras. Petani turun ke sawah, nelayan melaut, pedagang membuka toko, pegawai masuk kantor. Namun semua dijalani dengan ritme yang lebih tenang. Ada jeda yang diberi ruang.
Setelah menghabiskan kopi, kami melanjutkan perjalanan. Di jalan, suasananya serupa. Toko-toko buka dengan tempo santai. Pedagang menyapa pelanggan dengan senyum. Pengendara tidak saling menyalip secara agresif. Di persimpangan, kendaraan berhenti dengan sabar memberi kesempatan pejalan kaki menyeberang. Ada ketenangan yang begitu mudah dirasakan.
Perjalanan menuju Aceh Tengah semakin menegaskan kesan itu. Jalan berliku di antara perbukitan memaksa kendaraan melaju pelan. Namun justru di situlah letak kenikmatannya. Kabut tipis menggantung di lereng, kebun kopi membentang hijau, udara pegunungan terasa dingin dan segar. Alam seakan mengingatkan bahwa tidak semua hal harus dipercepat.
Di Takengon, warung kopi jelas menjadi pusat aktivitas. Daerah ini dikenal sebagai penghasil kopi yang namanya sudah mendunia. Namun di kampung halamannya, kopi tetap disajikan dalam gelas kecil dan diminum perlahan. Petani, pedagang, guru, hingga tokoh masyarakat duduk berdampingan tanpa sekat. Warung kopi menjadi ruang publik tempat orang bertemu dan berdiskusi.
Di sana, relasi sosial terasa hangat. Orang tidak hanya berkomunikasi lewat pesan singkat. Mereka bertatap muka. Mereka menyelesaikan persoalan lewat percakapan langsung. Warung kopi seperti ruang tamu bersama. Konflik kecil bisa reda lewat obrolan. Keputusan bersama lahir dari diskusi santai.
Saya mengingat satu momen di Desa Pantan Pertik. Seorang warga datang ke pos relawan dan duduk bersama kami. Ia menyampaikan kebutuhan desanya soal perbaikan pipa air. Tidak ada proposal resmi. Tidak ada presentasi. Hanya percakapan jujur dan sederhana. Dari obrolan itulah muncul keputusan untuk membantu dan menyusun program. Di situ saya melihat bahwa ritme yang pelan tidak menghambat kerja. Justru membuat proses lebih matang.
Dalam konteks pasca bencana, sikap ini juga terlihat. Warga berduka atas kehilangan, tetapi tidak tenggelam dalam kepanikan. Mereka bangkit perlahan. Gotong royong berjalan tanpa banyak sorotan. Perbaikan dilakukan tahap demi tahap. Tidak ada euforia berlebihan, tetapi juga tidak ada keputusasaan panjang. Ada keteguhan yang tenang.
Aceh memang wilayah yang ditempa sejarah panjang, dari konflik hingga tsunami. Pengalaman itu membentuk cara pandang hidup yang lebih reflektif. Nilai agama juga memberi warna kuat. Aktivitas sehari-hari mengikuti waktu shalat. Ketika azan berkumandang, orang berhenti sejenak. Ada jeda untuk menenangkan diri. Dalam jeda itu, keseimbangan terjaga.
Saya membandingkannya dengan kehidupan di kota besar yang serba cepat. Di sana, waktu terasa seperti musuh. Orang berlomba menjadi lebih cepat, lebih efisien, lebih produktif. Namun sering kali kehilangan kesempatan untuk benar-benar hadir. Di Aceh, saya belajar bahwa hidup tidak harus selalu dipacu untuk menjadi bermakna.
Teknologi tetap digunakan. Ponsel pintar ada di tangan anak muda di warung kopi. Media sosial tetap berjalan. Namun teknologi tidak mengambil alih kehidupan. Ia hanya alat. Tatap muka tetap utama. Percakapan panjang tetap dirawat.
Menjelang pulang, saya membawa lebih dari sekadar catatan perjalanan. Saya membawa pelajaran tentang ritme hidup. Tentang bagaimana secangkir kopi kecil bisa mengajarkan kesabaran dan kebersamaan. Tentang bagaimana melambat bukan berarti tertinggal.
Di akhir obrolan pagi itu, Iwan berujar setengah bercanda, “Jangan-jangan kita yang mempercepat kiamat karena semua ingin serba cepat. Kerja cepat, kaya cepat, untung cepat,” ucapnya.
Kami tertawa, tetapi kalimat itu terasa dalam. Mungkin benar, ada hal-hal yang tidak perlu dipercepat. Aceh, dengan kesederhanaannya, mengajarkan bahwa hidup bisa dijalani dengan lebih tenang dan tetap bermakna. Tidak perlu tergesa. Tidak perlu selalu berlari. Kadang, cukup duduk, menyeruput kopi, dan menjalani waktu sebagaimana mestinya. (*)
















Discussion about this post