Balikpapan, Borneoupdate.com – Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Balikpapan memberikan peringatan dini terkait stabilitas ekonomi daerah. Kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) non-subsidi yang terjadi dua kali dalam waktu singkat memicu kekhawatiran serius. Legislator memprediksi tren ini bakal menghantam daya beli masyarakat dan melambungkan biaya logistik di Kota Minyak.
Wakil Ketua DPRD Balikpapan, Budiono Sastro Prawiro, menyoroti dampak domino dari kebijakan penyesuaian harga tersebut. Ia menilai sektor transportasi dan distribusi barang menjadi pihak yang paling terdampak langsung. Apalagi kenaikan ini bukan sekadar angka di papan SPBU.
“Ini jelas beban nyata bagi para pelaku usaha kecil dan menengah. Ekonomi bisa melemah karena kegiatan yang membutuhkan BBM jadi terhambat. Pasokan berkurang, harga juga naik cukup tinggi,” ujarnya, Jumat (08/05).
Budiono mengatakan ketergantungan sektor distribusi pada BBM non-subsidi sangat tinggi. Ketika biaya operasional membengkak, pengusaha cenderung membebankan selisih biaya tersebut kepada konsumen. Kondisi ini berpotensi memicu kenaikan harga bahan pokok di pasar-pasar tradisional Balikpapan. Pihak DPRD khawatir kenaikan ini akan memicu penurunan produktivitas masyarakat.
“Dari informasi Pertamina lonjakan harga terjadi pada BBM nonsubsidi. Pertamax Turbo kini harganya Rp 20.350 per liter, naik dari Rp 19.850. Yang dampak tinggi pastinya pada sektor mesin diesel yang menjadi tulang punggung angkutan logistik,” jelasnya.
Harga Dexlite, menurut Budiono, naik menjadi Rp 26.600 dari harga lama Rp 24.150 per liter. Sementara itu, Pertamina Dex mencatatkan kenaikan tertinggi dengan harga baru Rp 28.500 per liter, melonjak jauh dari posisi Rp 24.450. Selisih harga yang mencapai ribuan rupiah ini menciptakan tekanan finansial baru bagi sektor industri dan transportasi berat.
“Makanya kami minta pemerintah segera pantau ketersediaan stok barang pokok. Jangan sampai fluktuasi harga BBM menghentikan roda aktivitas ekonomi masyarakat menengah ke bawah. Kami mendorong pengawasan distribusi barang demi mencegah inflasi,” tuturnya lagi.
Melalui langkah proaktif, Budiono berharap gejolak harga global tidak melumpuhkan ekonomi domestik. Transparansi informasi mengenai stok dan harga di pasar menjadi kunci utama meredam kepanikan warga. Sinergi antara pemerintah, Pertamina, dan pelaku usaha kini menjadi penentu stabilitas ekonomi kota ke depan. (ana)

















Discussion about this post