Balikpapan, Borneoupdate.com – DPRD Kota Balikpapan berkomitmen mengembalikan intensitas pertemuan tatap muka dengan konstituen. Para legislator kini tengah menyusun langkah strategis agar frekuensi kegiatan reses dapat kembali normal seperti tahun-tahun sebelumnya. Upaya ini menjadi prioritas utama guna memastikan setiap keluhan warga terdengar dan tertangani dengan cepat.
Langkah ini, kata Wakil Ketua DPRD Balikpapan, Yono Suherman, menyusul adanya kebijakan efisiensi anggaran daerah pada tahun ini. Dampak dari pengetatan anggaran tersebut memaksa kegiatan dialog warga dan reses mengalami pemangkasan drastis. Saat ini, setiap anggota DPRD Balikpapan hanya mendapatkan jatah turun ke lapangan sebanyak satu kali dalam setahun.
Dampak pembatasan ini menghambat fungsi pengawasan dan legislasi. Ia menilai satu kali pertemuan dalam setahun tidak cukup untuk memotret dinamika persoalan kota yang terus berkembang. Padahal anggota dewan membutuhkan interaksi yang lebih rutin untuk memvalidasi masalah infrastruktur, pendidikan, hingga kesehatan di tingkat RT.
“Kami akan terus memperjuangkan agar frekuensi reses kembali seperti semula. Intensitas pertemuan dengan masyarakat sangat penting untuk mengetahui persoalan di lapangan secara berkala,” ujarnya, Jumat (08/05).
Yono menyebut reses merupakan jembatan utama antara rakyat dan kebijakan pemerintah. Tanpa komunikasi yang intens, program pembangunan berisiko tidak tepat sasaran. Ia mengkhawatirkan banyak aspirasi mendesak milik warga yang justru luput dari pengawasan karena keterbatasan ruang dialog.
DPRD, lanjutnya, kini mulai melakukan evaluasi terhadap pos anggaran lain yang memungkinkan untuk dialihkan ke kegiatan reses. Hal itu sebagai upaya mencari solusi tanpa harus mengganggu stabilitas fiskal daerah. Ia menekankan kehadiran anggota dewan di tengah masyarakat adalah bentuk tanggung jawab moral yang tidak bisa ditawar.
“Masyarakat butuh saluran untuk menyampaikan keluh kesah mereka secara langsung. Jika pertemuan berkurang, kami khawatir respon terhadap masalah warga menjadi lambat,” jelasnya.
Selain reses, tambah Yono, kegiatan dialog warga juga menjadi target pemulihan frekuensi. Kedua agenda tersebut selama ini menjadi mesin utama DPRD dalam menghimpun data mentah untuk penyusunan Pokok-Pokok Pikiran (Pokir). Data inilah yang nantinya menentukan arah pembangunan Balikpapan agar lebih menyentuh kebutuhan akar rumput. (ana)
















Discussion about this post