Balikpapan, Borneoupdate.com – Kualitas distribusi air bersih di Kota Balikpapan kembali menjadi sorotan tajam. Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Balikpapan menerima banyak laporan mengenai kondisi air yang tidak layak konsumsi. Warga mengeluhkan air yang mengalir ke rumah mereka seringkali berwarna keruh kekuningan dan mengeluarkan aroma tidak sedap.
Kondisi ini, kata Sekretaris Komisi IV, Muhammad Hamid, memicu tanda tanya besar terhadap kinerja penyediaan air bersih di lapangan. Keluhan masyarakat ini kontras dengan laporan capaian pemerintah yang mengklaim perbaikan layanan secara berkala. Realitas di pemukiman warga menunjukkan masalah teknis distribusi masih menghantui kenyamanan masyarakat sehari-hari.
“Kalau kita lihat di lapangan, air yang diterima masyarakat masih kuning. Bahkan seperti lumpur dan berbau. Itu sudah sering terjadi. Setelah ada laporan baru pihak PTMB melakukan pengecekan di lapangan,” ujarnya, Jumat (08/05).
Hamid menilai kondisi ini sangat merugikan pelanggan yang rutin membayar kewajiban setiap bulan. Ia menyebut masyarakat berhak mendapatkan air yang jernih dan tidak berbau sebagai kebutuhan dasar. Karena air yang menyerupai lumpur tersebut berisiko mengganggu kesehatan kulit dan merusak peralatan rumah tangga warga.
Untuk itu, Hamid meminta pihak Perumda Tirta Manuntung Balikpapan (PTMB) untuk segera melakukan evaluasi menyeluruh. Mulai dari proses pengolahan hingga jaringan distribusi ke pelanggan. Pihak DPRD menduga adanya masalah pada sistem filtrasi atau kebocoran pipa distribusi yang memicu masuknya sedimen tanah ke dalam aliran air.
“Pemerintah harus menyelaraskan klaim keberhasilan dengan kenyataan di kran-kran rumah warga. Jangan sampai masyarakat terus-menerus mengonsumsi air yang tidak standar. Kan kalau telat bayar langsung ada peringatan hingga pencabutan,” lanjutnya.
Komisi IV, tambah Hamid, berkomitmen akan memanggil pihak terkait dalam rapat dengar pendapat (RDP) waktu dekat. Melalui pengawasan ketat ini, DPRD Balikpapan berharap krisis kualitas air bersih segera berakhir. Masyarakat menantikan aksi nyata di lapangan agar air jernih kembali mengalir ke rumah-rumah mereka tanpa gangguan bau dan warna.
“Kami ingin mendengar solusi konkret dan jangka waktu perbaikan kualitas air secara mendetail. Fokus utama ya memastikan setiap rupiah yang dibayar warga berbanding lurus dengan kualitas air yang mereka terima,” tambahnya. (san)

















Discussion about this post