Udara siang itu terasa cukup panas saat saya sampai. Tidak terlihat awan berarak di langit. Cuma matahari bersama sinar teriknya dan kabut asap tipis. Saat itu masih sekitar pukul 3 siang. Langkah kaki saya menuju sebuah area kebun warga. Lahannya berada di Desa Martadinata, Kecamatan Teluk Pandan, Kabupaten Kutai Timur. Hanya berjarak 15 menit dari Kota Bontang tempat menginap malam sebelumnya.
Sekilas sama saja dengan kebun rakyat pada umumnya. Luasan hamparannya sekitar 5 hektar yang dimiliki 5 orang berbeda. Mereka tergabung dalam kelompok tani bernama Buntu Batu. Saya pun melihat ke sekeliling. Tampak tanaman sayuran tengah bersemai. Ada juga yang sudah siap panen. Mulai dari cabai yang harganya semakin pedas. Hingga kacang panjang yang tetap panjang meski telah terpotong pendek.
Seorang pria bertubuh sedang datang menyambut dan mempersilahkan duduk. Perawakannya kurus khas petani negeri ini. Dia mengenakan kaos panjang warna hijau berpadu dengan celana training biru dan sandal jepit. Yang menarik kaosnya bertuliskan Penas KTNA XVII. Sebuah even besar tiga tahunan untuk para petani dan nelayan berprestasi di Indonesia. Artinya orang ini menjadi salah satu peserta yang berangkat ke sana.
Saya pun duduk dan berbincang bersama sang bapak. Nama beliau Rustam Efendi. Mirip sekali dengan nama mantan Walikota Balikpapan, Rizal Efendi. Beda nama dan nasib saja dua orang ini. Sang bapak biasa dipanggil pak Efen. Dulunya pernah jadi pekerja tambang di Kabupaten Kutai Timur. Lalu beralih profesi jadi petani setelah sekian tahun kerja. “Capek mas ikut orang. Kan itu kerjanya disuruh-suruh,” ujarnya. Tak ada penyesalan atas pilihannya itu. Dia rela melepas gaji bulanan dan bekerja bebas seperti sekarang.
Bapak ini menceritakan awal mula merintis kebun sekitar 5 tahun lalu. Persoalan utama terjadi pada kualitas tanah. Secara umum wilayah Kutim didominasi oleh jenis Podsolik Merah Kuning (PMK) dan sebagian Aluvial. Tanah jenis ini cenderung berkualitas rendah hingga sedang. Karena tanah PMK pada umumnya memiliki keasaman (pH) yang masam serta kandungan unsur hara makro (seperti fosfor dan nitrogen) yang terbatas.
Kondisi itu, kata beliau tentu berdampak pada biaya operasional dan hasil panen. Apalagi pola pemeliharaannya waktu itu masih manual. “Saya sama yang lain kalau menyiram harus bawa jirigen,” jelasnya. Mengingat tanah jenis ini bergantung pada suplai air. Khususnya di musim kemarau yang menyebabkan tanah menjadi kering kerontang. Otomatis ada biaya yang harus keluar dari kantong. “Seminggu bisa sampai Rp 500.000,” ucapnya lagi.
Untuk pupuk, lanjut pak Efen, masih mengandalkan pemupukan organik demi menyiasati keterbatasan unsur hara tanah. Lalu pola tanaman menggunakan sistem bergilir. Hal itu sudah menjadi pola umum yang berlaku. Yakni untuk menjaga kesuburan tanah, menekan hama endemik, serta memastikan pendapatan petani tetap stabil sepanjang tahun. Mengingat jenis tanahnya merupakan podsolik merah kuning yang mendominasi wilayah tersebut.
Soal hasil, tuturnya, memang tidak terlalu bagus. Khususnya saat awal merintis usaha tani. Kondisi tanah yang tidak bagus berakibat tanaman tidak tumbuh maksimal. Dampaknya tentu pada minimnya hasil panen. Beliau pun mengikuti pelatihan petani dari Pertamina Gas Area Kalimantan (Pertagas OKA) di Bontang pada tahun 2022. “Saat itu saya bilang kok tanaman kami susah tumbuh,” tuturnya lagi.
Pihak Pertagas bersama konsultan pertanian pun melakukan pengecekan. Hasilnya menunjukkan rendahnya unsur hara di lahan kelompok tani Buntu Batu. “Nilai pH-nya waktu itu sekitar 2 atau 3,” ungkap Dwi Dally Mulyanto, konsultan pertanian Pertagas OKA. Pria berkacamata ini turut mendampingi saya saat berada berkunjung ke lahan pak Efen. Dia mengatakan angka pH ini artinya lahan yang ada tergolong miskin unsur hara. Ditambah lagi jenis tanahnya termasuk PMK. Tanahnya gampang pecah ketika kemarau dan becek saat hujan.
Kondisi ini, lanjut Dwi, tentu memerlukan penanganan khusus pada tanahnya. Di mana pihaknya harus memperbaiki unsur hara tanah terlebih dahulu. Karena pupuk yang paling bagus sekalipun tidak akan berguna pada tanah ber-pH rendah. “Unsur hara tanah ibarat pondasi rumah. Itu pondasi harus kuat. Rumah 10 tingkat bisa jadi. Tapi selama pondasi gak kuat akan rubuh,” jelasnya.
Usai pengecekan, pihak Pertagas OKA kemudian meluncurkan paket bantuan ke kelompok tani Buntu Batu. Yakni berupa perbaikan unsur tanah sebagai pendahuluan. Agar tanah pertanian yang ada angka pH-nya bisa naik. “Ada bahan-bahan tertentu yang bisa membuat pH-nya jadi normal. Tanahnya juga jadi tidak terlalu keras dan gampang tanaman tumbuh,” ucap Dwi.
Ia menjelaskan proses perbaikan nilai pH juga menggunakan pupuk kompos. Di mana pihaknya memberikan pendampingan pengolahan pupuk ini. Yaitu dengan melakukan proses pendahuluan terhadap pupuk kandang sesuai standar. Agar mikroba baik bisa tumbuh maksimal. “Kan petani kalau pupuk kandang asal dilempar. Kalau kita harus proses ulang dulu. Dengan seperti itu penyakit-penyakitnya mati,” jelasnya lagi.
Dwi menyebut proses perbaikan pH tanah juga tidak memerlukan waktu yang lama. Hanya berkisar dua sampai enam bulan. Melalui proses yang rutin angka pH pada tanah pertanian bisa kembali stabil. “Setelah 6 bulan tanah itu pH-nya bisa kembali normal. Itu sudah kita buktikan di lahan kelompok tani Buntu Batu ini,” urainya lebih jauh.
Selain itu, Pertagas OKA turut membantu penerapan teknologi pertanian. Hal itu sebagai bentuk efisiensi kerja dan upaya mengurangi beban operasional. Di mana kelompok tani Buntu Batu mendapatkan paket bantuan irigasi tetes lengkap dengan panel surya. Teknologi ini menyalurkan air dalam bentuk tetesan kecil langsung ke zona akar melalui pipa berlubang. Efisiensi air dari sistem ini mencapai 80-90 persen. Adapun panel surya untuk menggerakkan pompa air tanpa bergantung pada listrik PLN.
Penerapan teknologi pertanian ini terbukti membawa dampak positif bagi petani. Mereka tidak perlu lagi menyiram tanaman secara manual seperti dulu. Bahkan volume pemakaian air yang terpakai juga lebih efisien dibanding sebelumnya. “Jadi kami lakukan pendampingan penggunaan teknologi ini di 2024 akhir. Hasilnya tentu bisa ditanyakan langsung pada pak Efen,” tambah Dwi.
Melalui pendampingan intensif dari Pertagas OKA, kelompok tani Buntu Batu mencatatkan lonjakan hasil panen. Komoditas tanaman hortikultura seperti cabai, tomat dan kacang panjang bisa menghasilkan puluhan kali panen. Total panen yang dihasilkan dilaporkan mampu menembus angka >3 ton. Mereka juga menjadi percontohan pertanian ramah lingkungan di Kutim dengan mengelola Demonstration Plot (Demplot) seluas 5 hektar. Termasuk berhasil menerapkan metode semi-organik guna mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia.
Kelompok tani yang dipimpin Rustam Efendi ini juga berhasil memaksimalkan keterbatasan lahan. Total lahan seluas 5 hektar ini mampu menghasilkan panen maksimal tanpa menambah luasan lahan. Bahkan memulihkan lahan pertanian yang awalnya rusak menjadi kembali produktif sejak tahun 2022. Keberhasilan ini juga berbuah penghargaan dari Pemkab Kutai Timur.
Untuk pemasaran hasil panen, menurut pak Efen tidak terlalu sulit. Karena pihak pengepul yang langsung datang melakukan transaksi pembelian. Harga yang ditawarkan pun cukup bersaing. Alhasil dirinya dalam sekali panen bisa membeli sepeda motor. “Itu motor hasil dari sekali panen saja,” tuturnya sambil menunjuk motor yang terparkir di samping gudang. Bagaimana tidak, sekali panen saja bisa membeli Honda PCX.
Kelompok tani yang berlokasi di Desa Martadinata ini juga mendapatkan penghargaan atas dedikasi ketahanan pangan. “Alhamdulillah kami dapat penghargaan kelompok tani terbaik di Kutim. Beberapa bulan lalu saya juga ikut hadir di Pekan Nasional (PENAS) KTNA XVII 2026 di Gorontalo. Semua biaya ditanggung Pemkab,” tambah pak Efen. Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) sendiri merupakan kesempatan para petani bertemu dan bertukar pikiran. Termasuk menjembatani kebijakan pertanian pemerintah dengan petani secara langsung. Di mana Kabupaten Gorontalo menjadi tuan rumah pada tanggal 20-26 Juni 2026 lalu.
Secara terpisah, Manajer Pertagas OKA, Linna Iriyanti, menyebutkan proses dalam pemberian bantuan kepada kelompok tani Buntu Batu. Mulai dari pemetaan, potensi keseriusan dan konsistensi petani, hingga pendampingan berkelanjutan. Karena keberhasilan bukan hanya dari besarnya bantuan. Tetapi juga dari pihak penerima yang amanah dalam memanfaatkan program tersebut. “Kita lakukan pemetaan dalam program yang ada. Intinya mereka mau berkembang atau tidak,” ujarnya.
Pada dasarnya, lanjut Linna, pihaknya tidak ingin sekedar memberikan bantuan. Ada target kemandirian yang harus tercapai dari sisi petani. Minimal mereka bisa tercukupi kebutuhan primernya tanpa tergantung orang lain. Salah satunya lewat bantuan teknologi pertanian berupa irigasi tetes. “Jadi support dari kami bukan hanya bantuan. Ada pendampingan dan alih kelola teknologi,” jelasnya. Program tersebut mampu menekan biaya operasional petani dan lebih efisien dibanding cara manual.
Proses awalnya, menurut Linna, tentu pada upaya mengubah kualitas tanah. Karena itu merupakan pondasi dasar. Maka konsultan dari Pertagas turun ke lapangan membantu dan mendampingi petani. Setelah muncul konsistensi dari petani baru berlanjut penerapan teknologi. Hasilnya terlihat selama 4 tahun program berjalan sejak 2022 silam. Para petani kini dapat menikmati hasil usaha mereka sendiri. “Makanya jangan buta teknologi. Petani harus maju. Petani harus naik kelas,” lanjutnya.
Di sisi lain, tambah Linna, Pertagas tetap menggandeng beberapa stakeholder. Terutama dalam upaya perluasan program ketahanan pangan. Karena Pertagas takkan mampu sendirian mengakomodir permohonan bantuan yang masuk. Apalagi kebijakan bantuan tentu mengutamakan kawasan terdekat dari area kerja Pertagas. “Kalau hanya Pertagas memberikan bantuan ini agak berat. Jadi kita coba sinergi dari pihak lain,” tuturnya lagi.
Linna berharap semua pihak bisa menjalin kemitraan lintas sektor bersama Pertagas OKA. Khususnya instansi pemerintah yang memiliki akses anggaran pertanian. Di antaranya lewat bantuan alat mesin pertanian dan pemasaran. Agar program pemberdayaan di kelompok tani Buntu Batu bisa menjadi model bagi wilayah lainnya. “Jadi gak cuma bagaimana caranya nanam dan panen. Tapi harus sampai menghasilkan dan berputar,” pungkasnya. (zha)

















Discussion about this post