Balikpapan, Borneoupdate.com – Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Balikpapan menyoroti tajam lonjakan kasus disinformasi di dunia maya. Narasi palsu di media sosial kini menjadi ancaman nyata bagi ruang publik. Fenomena ini memerlukan rem darurat berupa penguatan literasi dan benteng karakter masyarakat.
Ketua Komisi IV DPRD Kota Balikpapan, Gasali, mengambil sudut pandang berbeda dalam mengatasi krisis informasi ini. Ia tidak mendorong pembatasan digital. Sebaliknya, ia membidik komunitas pesantren sebagai motor penggerak literasi digital berbasis moral. Untuk itu, dirinya mengajak seluruh santri di kota minyak agar memperkuat karakter, keimanan, dan ketakwaan.
“Tiga pilar ini jelas senjata utama menghadapi disinformasi. Jangan sampai cuma baca tanpa paham sumber aslinya. Perlu sekali cek ricek. Hindari main share saja. Santri punya keunggulan moral untuk membedakan berita benar dan dusta,” ujarnya, Kamis (22/10).
Karenanya, lanjut Gasali, pemerintah kota dan DPRD memandang santri bukan sekadar pelajar agama. Mereka adalah agen perubahan yang strategis. Karakter santri yang kuat dapat menjadi penyeimbang di tengah liarnya arus informasi media sosial. Mereka harus bisa menjadi percontohan bagi siswa di luar dalam penggunaan internet.
“Kita tidak bisa membendung arus teknologi. Tapi kita bisa memperkuat benteng moral penggunanya. Santri harus menjadi rem alami terhadap narasi-narasi provokatif di media sosial. Jelas itu peran yang harus diambil para santri,” jelasnya.
Menurut Gasali DPRD mendorong santri mengambil peran aktif di garda terdepan. Mereka harus menjaga persatuan bangsa melalui jempol mereka di layar gawai. Santri wajib memproduksi konten-konten yang menyejukkan dan edukatif. Tugas santri kini meluas hingga ke lingkungan masyarakat digital. Mereka harus memberikan edukasi langsung kepada warga sekitar tentang bahaya hoaks.
“Langkah ini akan memperkuat ruang digital yang sehat. Jangan gampang percaya postingan orang. Lalu jangan cepat share sebelum tahu benar isi dan sumbernya. Kuncinya kan ada di orangnya. Makanya itu perlu peran santri,” tuturnya.
Gasali optimistis dengan keterlibatan aktif komunitas pesantren. Keimanan yang kokoh akan melahirkan kehati-hatian dalam menyebarkan sebuah berita. Pola pikir tabayun atau verifikasi harus menjadi budaya baru di media sosial. “Saya ingin para santri menjadi guru literasi bagi keluarganya sendiri, lalu bagi lingkungan sekitarnya,” tambahnya. (man)















Discussion about this post