Balikpapan, Borneoupdate.com – Komisi IV DPRD Kota Balikpapan menuntut perubahan sistem pengajaran di ruang kelas. Hal itu menjadi syarat jika kebijakan penerapan Bahasa Inggris di tingkat Sekolah Dasar (SD) jadi diberlakukan. Karena pola lama dinilai membosankan dan bisa mengganggu tumbuh kembang akademis siswa.
Ketua Komisi IV, Gasali mengatakan sistem pendidikan masa kini wajib meninggalkan metode hafalan rumus tata bahasa (grammar) yang kaku. Pendekatan konvensional tersebut terbukti ampuh membunuh minat belajar dan memicu rasa takut salah pada anak-anak. Ruang kelas harus bertransformasi menjadi lingkungan yang menyenangkan, dinamis, dan penuh interaksi dua arah.
“Kita harus menghentikan cara-cara lama yang membuat anak stres mendengarkan teori. Pengajaran bahasa asing untuk anak usia dini wajib menggunakan pendekatan yang menyenangkan dan interaktif. Jangan hanya metode hafalan rumus tata bahasa yang kaku,” ujarnya, Selasa (02/06).
Gasali menyebut fokus utama penerapan Bahasa Inggris wajib menyasar pada kemampuan komunikasi praktis harian. Siswa SD membutuhkan keberanian untuk berbicara, bukan sekadar menghafal kosakata di atas kertas ujian. Guru harus mendorong siswa agar berani mengekspresikan diri menggunakan Bahasa Inggris dalam aktivitas sehari-hari di lingkungan sekolah.
Implementasi strategi baru ini, lanjutnya, memerlukan media pendukung yang bervariasi agar menarik perhatian anak-anak generasi alfa. Penggunaan lagu ramah anak, permainan kelompok yang kompetitif, dan pengenalan lewat gambar visual digital menjadi solusi konkret. Kombinasi metode ini dapat merangsang otak anak untuk menyerap bahasa asing secara alami dan tanpa paksaan.
“Nanti harus menonjolkan kemampuan komunikasi praktis harian. Pendekatan visual, lagu, permainan kelompok, dan media digital interaktif bisa menjadi solusi efektif di kelas. Anak tidak boleh merasa tertekan oleh beban nilai akademik,” jelasnya lagi.
Pihak DPRD, tambah Gasali, juga meminta Dinas Pendidikan Kota Balikpapan untuk membekali para guru dengan pelatihan metodologi modern. Guru kelas tidak boleh sekadar menyalin isi buku teks ke papan tulis secara monoton. Pemerintah daerah harus memfasilitasi lokakarya pembuatan media pembelajaran berbasis teknologi digital guna menunjang kurikulum 2027 mendatang. (man)
















Discussion about this post