Berau – Setiap pagi, langkah-langkah kecil anak-anak terdengar memenuhi halaman SD Negeri 001 Kampung Payung-Payung, Pulau Maratua. Mereka datang dengan seragam sederhana dan tas yang menggantung di pundak. Mereka membawa harapan yang sama seperti anak-anak di kota besar. Mereka ingin belajar, mengenal dunia, dan meraih cita-cita.
Namun, anak-anak di pulau terluar Kabupaten Berau ini pernah tumbuh dalam keterbatasan akses informasi. Guru harus berjuang keras menyampaikan materi pembelajaran dengan sarana yang terbatas. Mereka mencari berbagai cara agar murid tetap memperoleh pengetahuan terbaru meski tanpa dukungan internet yang memadai.
Kehadiran layanan internet dari Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi (BAKTI) Kementerian Komunikasi dan Digital membuka ruang belajar yang lebih luas bagi siswa di SDN 001 Payung-Payung. Ruang kelas yang sebelumnya hanya bergantung pada buku pelajaran kini terhubung dengan sumber pengetahuan yang lebih beragam.
Internet tidak lagi sekadar fasilitas tambahan. Namun telah menjadi bagian penting dalam proses pendidikan. Guru memanfaatkan jaringan digital untuk mencari bahan ajar yang lebih aktual. Siswa mengenal berbagai informasi yang sebelumnya sulit mereka akses. Petugas administrasi sekolah juga dapat menyelesaikan berbagai laporan secara daring tanpa harus menempuh perjalanan jauh ke luar pulau.
Pihak sekolah bersama masyarakat telah menyuarakan kebutuhan peningkatan infrastruktur telekomunikasi selama bertahun-tahun. Penantian panjang itu akhirnya berbuah hasil ketika layanan internet mulai hadir dan dapat dimanfaatkan untuk mendukung kegiatan belajar mengajar.
Kepala SDN 001 Payung-Payung, Bahridin, mengatakan internet kini menjadi kebutuhan mendasar bagi dunia pendidikan di wilayah terluar seperti Maratua. “Keberadaan internet saat ini sangat penting untuk dunia pendidikan maupun pelayanan pemerintahan kampung,” ujarnya.
Bagi para guru, lanjut Bahridin, akses internet membantu mereka mengikuti perkembangan metode pembelajaran yang terus berubah. Bagi para siswa, internet membuka jendela baru untuk mengenal berbagai ilmu pengetahuan di luar batas geografis pulau tempat mereka tinggal.
Meski demikian, tantangan belum sepenuhnya berakhir. Keterbatasan kapasitas jaringan masih kerap menghambat aktivitas belajar. Jaringan internet sekolah juga dapat diakses oleh masyarakat sekitar. Saat jumlah pengguna meningkat, kualitas koneksi ikut menurun. Kondisi tersebut membuat proses pembelajaran berbasis digital berjalan lebih lambat.
Para siswa terkadang harus bersabar ketika membuka materi pembelajaran. Guru juga harus menyesuaikan metode mengajar dengan kondisi jaringan yang tersedia. Meski keterbatasan itu tidak mengurangi semangat mereka untuk belajar.
Bahridin mengapresiasi perhatian pemerintah dalam menghadirkan akses internet di wilayah terluar. Ia berharap dukungan tersebut terus diperkuat agar kebutuhan pendidikan memperoleh prioritas yang lebih besar.
“Kami sangat apresiasi upaya dari pemerintah. Tinggal penguatan saja. Akses kami sering terganggu saat yang pakai internet banyak. Harusnya ada jalur khusus untuk kami yang di sekolah,” tandasnya. (zha)
















Discussion about this post