Balikpapan, Borneoupdate.com – DPRD Kota Balikpapan menginisiasi program pembinaan terstruktur dan berkelanjutan untuk seluruh pondok pesantren. Langkah nyata ini fokus pada pencegahan aksi kekerasan, penghentian perundungan (bullying), serta perbaikan total pengelolaan asrama santri. Pihak dewan menginginkan lingkungan belajar yang aman, nyaman, dan manusiawi bagi anak-anak yang menimba ilmu agama.
Kebijakan ini, kata Ketua Komisi IV, Gasali, membedakan fokus Balikpapan dengan daerah lain yang biasa memberikan bantuan dana hibah fisik. DPRD Balikpapan justru memilih masuk ke dalam akar masalah. Yakni pembangunan karakter dan sistem pengawasan internal asrama. Pendekatan humanis ini bertujuan memastikan hak-hak anak dan santri terlindungi secara penuh selama berada di lingkungan pesantren.
“Kami ingin memastikan pencegahan kekerasan dan perundungan di mana saja. Mulai pesantren maupun sekolah umum. Jadi memang harus ada program pembinaan terstruktur. Kami siap mendampingi pengelola pesantren untuk mewujudkannya,” ujarnya, Kamis (22/10).
Gasali menyebut pesantren sebagai pilar penting dalam mencetak generasi muda yang berakhlak mulia. Oleh sebab itu, negara harus hadir untuk membantu pengelola pesantren meningkatkan standar pelayanan dan pola asuh mereka. Di mana program ini melibatkan dinas terkait untuk memberikan pelatihan reguler bagi para pengurus asrama.
“Perlu sekali pembinaan bersama. Mulai komunikasi persuasif, deteksi dini kesehatan mental hingga manajemen konflik di lingkungan santri. Jadi pesantren unggul itu tidak semata bangunan saja. Pola pengasuhan juga menjadi prioritas,” jelasnya.
DPRD, lanjut Gasali, optimis pola pembinaan yang berkelanjutan ini mampu melahirkan santri unggul. Generasi ini tidak hanya kuat secara ilmu agama tapi juga matang secara emosional. Agar para santri siap memberikan kontribusi terbaiknya bagi roda pembangunan Kota Balikpapan di masa depan.
“Kita semua berharap yang terbaik. Tapi tentu itu berawal dari usaha yang maksimal. Tidak bisa hanya pemerintah saja. Pihak pesantren pun wajib terlibat. Intinya kita tidak ingin ada kekerasan dalam kegiatan pembelajaran di mana saja,” tuturnya lagi.
Gasali berharap program pencegahan kekerasan ini menjadi prioritas semua pihak. Sehingga pola pendidikan ala pesantren yang sudah teruji bisa semakin meningkat. (man)
















Discussion about this post