Balikpapan, Borneoupdate.com – Kelangkaan LPG 3 kg terus terjadi di Balikpapan. Pihak Pertamina menyebut terjadi over kuota 8% dari total penyaluran di kota minyak. Menyikapi hal ini, DPRD Kota Balikpapan meminta keterbukaan data kuota secara jelas.
Anggota Komisi II, Slamet Iman Santoso mengaku belum mendapatkan penjelasan resmi soal kelangkaan LPG. Namun warga banyak melaporkan kesulitan mendapatkannya. Di tingkat pengecer bisa mencapai Rp 35.000. Harga itu jauh di atas harga resmi sebesar Rp 19.000.
“Kami dapat info Pertamina mengurangi kuota 6% di Kaltim tahun ini. Alasannya mendorong perpindahan ke bright gas yang non subsidi. Kalau kami inginnya ada transparansi. Buka saja data berapa kuota untuk Balikpapan,” ujarnya saat meninjau operasi pasar LPG 3 kg di Kelurahan GSB, Selasa (11/07).
Kondisi ini, lanjut Iman, sudah membuat susah warga yang memang berhak menerima. Karena pihak Pertamina hanya mengaku sudah menyalurkan sesuai kuota. Seharusnya ada pengecekan sampai ke tingkat agen. Agar ada pembuktian penggunaan LPG subsidi ini sampai ke penerima yang berhak.
“Soalnya ini bikin susah warga. Kalau memang agar tepat sasaran kenapa yang kena dampak semua warga. Intinya pengawasan di lapangan. Agen mana saja yang dapat kuota. Kemana mereka salurkan. Tepat sasaran apa tidak,” tuturnya lagi.
Iman juga menyoroti operasi pasar LPG 3 kg. Pasalnya kegiatan ini kurang bersinergi dengan kelurahan setempat dan terburu-buru. Terutama soal data pemegang LPG subsidi dan kuota yang bakal dibagikan. Di mana faktanya jumlah warga dan kuotanya tidak berimbang.
“Kalau sudah begini tidak efektif. Banyak RT yang warganya tidak kebagian kuota LPG subsidi. Kalau operasi pasar seharusnya sinergi baik-baik dengan kelurahan. Asalkan kuota mencukupi. Ini 280 tabung apa cukup,” tegasnya.
Secara terpisah, Lurah GSB, Slamet Riyadi mengakui ada warga luar yang turut datang mengantre. Meski sudah ada aturan hanya untuk warga setempat. Namun jika tidak dilayani tentu akan jadi persoalan baru.
“Kalau secara spesifik idealnya khusus warga GSB saja. Tapi yang datang warga di luar kita. Kalau tidak dilayani malah jadi persoalan. Gimana gak berebut. Kan harga Rp 19.000,” jelasnya.
Untuk itu, lanjut Slamet, pihaknya tengah melobi Dinas Perdagangan agar mendapat tambahan operasi pasar. Apalagi kuota hari ini hanya 280 tabung. Sehingga warga yang belum kebagian bisa menerima di jadwal berikutnya. Dengan catatan ada kejelasan waktu pelaksanaan.
“Ini cukup mendadak dan kami kesulitan mengkoordinasi dengan RT. Jujur kita gak menyangka seperti ini. GSB ini kan warganya menengah ke atas. Biasa kalo ada OP gak banyak peminatnya. Tapi ini tumben banyak sekali antrian,” tambahnya. (FAD)
















Discussion about this post