Balikpapan, Borneoupdate.com – Komisi IV DPRD Kota Balikpapan mengingatkan dampak dari rencana penerapan penggunaan Bahasa Inggris pada jenjang Sekolah Dasar (SD). Secara umum, kebijakan pemerintah pusat ini bertujuan agar ada modernisasi Pendidikan. Namun hal tersebut jangan sampai mengikis posisi utama Bahasa Indonesia di lingkungan sekolah.
Ketua Komisi IV, Gasali, melihat potensi ancaman terhadap rasa cinta tanah air jika sekolah salah menerapkan strategi pembelajaran. Anak-anak usia dini rentan mengalami krisis identitas budaya apabila terlalu fokus menguasai bahasa asing. Oleh karena itu, penguatan nilai-nilai kebangsaan lewat bahasa nasional wajib berjalan beriringan secara seimbang.
“Kemampuan berbahasa Indonesia yang baik dan benar tetap menjadi dasar penting. Khususnya dalam pembentukan karakter, budaya, serta identitas bangsa. Kita tidak boleh melupakan jati diri kita sebagai bangsa Indonesia,” ujarnya, Rabu (03/06).
Gasali menilai penguasaan bahasa nasional berfungsi sebagai fondasi utama berpikir dan berperilaku bagi generasi muda. Bahasa Indonesia merekatkan persatuan di tengah keberagaman suku dan latar belakang siswa di Balikpapan. Pembentukan karakter yang kokoh bermula dari pemahaman yang mendalam terhadap bahasa persatuan tersebut sejak usia dini.
Pihak sekolah, lanjutnya, wajib mendesain ruang kelas yang harmonis tanpa menomorduakan salah satu bahasa. Guru harus mampu memosisikan Bahasa Inggris murni sebagai alat komunikasi internasional penunjang masa depan. Sementara itu, Bahasa Indonesia tetap memegang kendali sebagai bahasa pengantar utama dan simbol kedaulatan negara di sektor pendidikan.
“Bahasa Inggris itu memang bahasa dunia, tapi tetap harus bahasa ibu, yaitu Bahasa Indonesia, yang diperkuat. Jangan sampai anak-anak kita fasih berbicara asing, namun justru gagap dan kaku saat menggunakan bahasa mereka sendiri,” jelasnya.
Untuk itu, tambah Gasali, DPRD mendesak Dinas Pendidikan mampu merancang sistem pengawasan yang ketat. Pemerintah daerah harus memastikan seluruh SD negeri maupun swasta tetap memprioritaskan pelajaran Bahasa Indonesia secara berkualitas. Guru-guru wajib memberikan contoh penggunaan tata bahasa yang baku dalam interaksi formal di sekolah.
“Jangan sampai anak kita malah hilang identitas. Boleh saja punya skil bahasa asing. Itu jelas tidak salah. Asalkan bahasa asli tidak turut hilang dalam kehidupan sehari-harinya,” tambah politisi asal Golkar Balikpapan ini. (man)

















Discussion about this post