
Balikpapan, Borneoupdate.com – Jumlah pencari kerja di Kota Balikpapan terus bertambah setiap tahunnya. Sementara lowongan pekerjaan yang tersedia tidak sebanyak permintaan. Selain itu laju angka pemutusan hubungan kerja (PHK) juga turut menambah angka pencari kerja.
Menyikapi hal ini, Wakil Ketua Komisi IV DPRD Balikpapan, Iwan Wahyudi menilai pengangguran dan PHK merupakan pekerjaan rumah bagi dinas ketenagakerjaan di kota minyak. Mengingat prediksi menyebutkan kota ini akan mengalami penambahan jumlah penduduk yang signifikan seiring posisinya menjadi pintu gerbang menuju lokasi ibukota negara (IKN).
“Lowongan kerja menjadi salah satu solusi untuk mengurangi angka pengangguran. Namun hal itu tergantung jumlah peluang dari pihak perusahaan. Salah satunya proyek perluasan kilang (RDMP) Pertamina di Balikpapan. Meski yang terjadi di lapangan prosentase penyerapan tenaga lokal terbilang kecil,” ujarnya, Selasa (07/12).
Sebab itu, Iwan menyarankan masyarakat tidak sepenuhnya menggantungkan diri kepada pemerintah dan harus berbenah. Salah satunya melalui program wiraswasta di sektor mikro kecil menengah. Sektor ini bisa menjadi solusi pekerjaan alternatif bagi warga di Balikpapan.
“Kami akui jumlah kuota pencari kerja dengan lapangan pekerjaan tidak sebanding. Area lapangan kerja memang perlu penambahan. Ini jelas jadi PR kita bersama agar pengangguran yang ada dapat terserap secara menyeluruh,” tuturnya lagi.
Terkait persoalan ini, Iwan meminta pemerintah harus mampu menjadikan masyarakat Balikpapan terampil memasuki dunia kerja. Di mana kemajuan suatu daerah bermula dari pola pikir individu. Mulai pengembangan diri dan melihat peluang. Termasuk memiliki kemampuan dan komitmen tinggi membuka usaha mandiri dan tidak tergantung lowongan pekerjaan.
“Pencari kerja tidak boleh takut menghadapi rintangan termasuk merintis usaha. Banyak sekali anak muda mengeluh ketika di awal usahanya. Akhirnya gagal dan berhenti berusaha. Saya pikir usaha kecil justru menggerakkan perekonomian daerah di tengah pengangguran dan PHK,” tambahnya. (SUS)




















Discussion about this post