Balikpapan, Borneoupdate.com – Komisi II DPRD Kota Balikpapan membawa solusi segar untuk menuntaskan kemacetan akibat antrean solar. Mereka mendorong pemerintah dan Pertamina menambah jumlah SPBU yang melayani penjualan solar subsidi. Langkah ini bertujuan memecah konsentrasi kendaraan yang selama ini menumpuk pada titik-titik tertentu saja.
Selama ini, kata anggota Komisi II DPRD Kota Balikpapan, Japar Sidik, distribusi solar subsidi di Balikpapan memang bertumpu pada dua lokasi. Hal tersebut menyebabkan penumpukan kendaraan berat di SPBU Kilometer (KM) 13 dan KM 15. Akibatnya, antrean panjang kerap mengular hingga menutupi sebagian badan jalan raya.
Pihak DPRD menilai penyebaran titik layanan menjadi kunci utama. Karena penambahan kuota saja tidak akan cukup tanpa skema distribusi yang merata. Japar meyakini pembukaan akses SPBU solar subsidi akan langsung mengurangi beban di jalan poros.
“Kalau kuotanya ada dan penyebaran SPBU berjalan, saya rasa antrean panjang pasti bisa terurai. Kan ada dua hal yang kita kritisi. Soal kuota dan SPBU yang cuma ada dua. Itu kan harus bersamaan solusinya,” ujarnya, Senin (18/05).
Japar menjelaskan keberadaan solar subsidi di banyak titik akan memudahkan para sopir truk. Mereka tidak perlu lagi berebut di satu lokasi yang sama setiap hari. Diversifikasi lokasi ini secara otomatis membagi volume kendaraan ke beberapa wilayah berbeda di Balikpapan.
Kondisi saat ini, lanjutnya, memang cukup menyulitkan para pengguna jalan dan pelaku jasa logistik. Penumpukan kendaraan di satu titik memicu kemacetan yang merugikan aktivitas ekonomi masyarakat. Japar memandang skema penyebaran ini sebagai solusi paling logis untuk mengurai kemacetan dalam waktu singkat.
“Kami sedang membangun komunikasi intensif dengan pihak terkait untuk merealisasikan opsi ini. Kami minta Pertamina mengecek kesiapan SPBU lain di wilayah Balikpapan. Tinggal penguatan pengawasan saja,” jelasnya.
Japar berharap usulan ini segera masuk dalam agenda kebijakan prioritas daerah. Penambahan titik layanan solar subsidi bukan sekadar masalah energi, melainkan juga menyangkut kenyamanan transportasi publik. Fokus utamanya adalah mengembalikan fungsi jalan raya agar bersih dari antrean kendaraan yang parkir sembarangan. (man)
















Discussion about this post