Balikpapan, Borneoupdate.com – Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Balikpapan menyoroti lonjakan angka stunting di wilayahnya. Lembaga legislatif ini meminta pemerintah kota beserta seluruh jajaran instansi memperkuat koordinasi. Fokus utama mereka mengarah pada pengawasan ketat peredaran pangan dan obat-obatan yang konsumsi warga.
Anggota Komisi IV, Iim, menempatkan pengawasan komoditas pasar sebagai kunci utama penyelesaian masalah gizi. Penanganan stunting tidak boleh hanya berfokus pada ruang perawatan rumah sakit. Pencegahan nyata harus bermula dari kualitas makanan yang beredar di tengah masyarakat.
“Evaluasi ini tentu mengejutkan bagi kota ini. Kita sudah di angka 24,6 persen. Kan dulunya masih 21,6 persen. Lonjakan ini menjadi alarm keras bagi semua pihak. Baik pemerintah maupun orang tua,” ujarnya, Selasa (03/11).
Iim menilai kenaikan angka tersebut sangat memprihatinkan. Padahal, catatan kesehatan sebelumnya menunjukkan prevalensi stunting berada pada angka 21,6 persen. Tren kenaikan sebesar tiga persen ini memerlukan tindakan darurat yang cepat dan terukur. “Kita tidak boleh membiarkan angka ini terus merangkak naik. Pemerintah kota harus bergerak cepat mengamankan pasokan pangan yang sehat untuk anak-anak kita,” jelasnya.
DPRD, lanjut Iim, mendorong Dinas Kesehatan dan Dinas Perdagangan untuk segera turun ke lapangan. Mereka harus memastikan tidak ada makanan kedaluwarsa atau obat-obatan berbahaya yang beredar. Produk pangan tanpa izin edar berpotensi besar merusak tumbuh kembang generasi muda.
Langkah pengawasan ini juga melibatkan peran aktif aparat di tingkat kecamatan hingga kelurahan. Kader posyandu harus mendapat pembekalan mengenai standar pangan yang aman dan padat gizi. Informasi langsung ini akan membantu para ibu dalam memilih bahan makanan harian yang berkualitas.
Iim juga menekankan pentingnya kerja sama lintas sektor yang harmonis dan berkelanjutan. Penurunan stunting tidak akan berhasil jika setiap instansi pemerintah bekerja sendiri-sendiri. Semua pihak wajib menyatukan data dan langkah penanganan di lapangan.
“Anak-anak adalah masa depan Balikpapan. Kualitas hidup mereka hari ini menentukan wajah kota ini di masa depan. Pengawasan pangan yang ketat adalah bentuk perlindungan kemanusiaan yang paling mendasar,” tambahnya. (dan)















Discussion about this post